Optimasi Proyek Hulu Migas Peluang Penuhi Target Energi2025

JAKARTA.SRIBERNEWS.COM–Optimasi proyek hulu migas yang akan berproduksi dalam enam tahun mendatang menjadi peluang untuk memenuhi target energi primer 2025.

Di sisi lain, meningkatnya impor minyak bumi tidak bisa dihindari mengingat pertumbuhan konsumsi energi masyarakat.

Demikian terungkap dalam acara Media Briefing bertajuk “Memenuhi Target Energi Primer Hingga 2025”, yang digelar Indonesian Petroleum Association (IPA), di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Hadir sebagai narasumber
Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Fatar Yani Abdurrahman, dan Direktur IPA, Nanang Abdul Manaf.

Acara Media Briefing ini dilaksanakan untuk mendukung penyelenggaraan Pameran dan Konvensi IPA ke-43 Tahun 2019 yang akan diadakan di Jakarta Convention Centre, pada 4-6 September 2019.

Menurut Fatar Yani, percepatan produksi proyek-proyek yang saat ini sedang dikerjakan sebagai solusi utama memenuhi pasokan energi primer mendatang.

Pasalnya, hingga saat ini relatif belum ada lagi ditemukan giant discovery untuk minyak bumi. SKK Migas saat ini sedang berupaya mencapai produksi nasional sebesar 1 juta barrel oil per day (BOPD) dalam enam tahun mendatang.

Hal itu merupakan tantangan tersendiri juga bagi kontraktor migas untuk agresif mencari wilayah eksplorasi.

“Sekarang yang kita lakukan adalah mempercepat onstream production. Kedua, dari sisi produksi dapat mengandalkan Enhanced Oil Recovery(EOR) dan work over. Kalau kita do nothing, makanya nanti tidak bisa dapat apa-apa,” tegas Fatar.

Fatar menambahkan, untuk mempercepat proyek hulu migas diperlukan kecepatan pengambilan keputusan dari KKKS.

Lebih dari 20 wilayah kerja (WK) Migas akan dikelola oleh KKKS baru dengan komposisi 60 persen merupakan mature asset.

“Sekarang temuan gas kita naik, seperti yang kita lihat di Masela. Begitu juga proyek laut dalam (IDD) yang merupakan potensi besar, dan rencananya sudah berproduksi pada 2025,” tambahnya.

Hingga 2027 nanti setidaknya ada 42 proyek hulu migas yang akan menambah produksi sebesar 1,1 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD). Proyek-proyek tersebut akan mendatangkan investasi senilai USD 43,3 miliar.

Dari sisi konsumsi, SKK Migas merekomendasikan adanya upaya konversi dari gas menjadi listrik untuk mengurangi impor minyak ataupun BBM ke depannya. Sehingga, banyaknya temuan cadangan gas dapat dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan domestik.

Menurut Nanang Abdul Manaf,
tantangan untuk memenuhi kebutuhan energi primer yang ada harus dipandang dengan optimis. Menurut dia, tidak ada kata lain untuk meningkatkan produksi selain melakukan eksplorasi dan penggunaan teknologi EOR.

“Karena migas sudah ada di lapangan tersebut, maka harus dipikirkan bagaimana meningkatkan recovery factor. Kondisi primarysebesar 25-35 persen, berarti masih sisa sekitar 75-70 persen yang harus diangkat. Nah, untuk mengangkatnya diperlukan teknologi,” ujarnya.

Dari 60 basin atau cekungan yang ada di Indonesia, lanjut Nanang, saat ini baru sekitar 16 cekungan yang dimanfaatkan. (Hers)

Redaksi Sribernews

Next Post

Prabowo Ajak Doakan Jemaah Haji

Sun Aug 11 , 2019
JAKARTA. SRIBERNEWS.COM—Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengajak masyarakat bersama-sama mendoakan jemaah yang sedang beribadah haji. “Saya mengajak para sahabat untuk mendoakan sodara kita jemaah haji, semoga Allah memberikan kesehatan dan kekuatan juga barokah-Nya, sehingga bisa melaksanakan ibadah haji dengan baik dan insyaallah selamat kembali ke tanah air dan menjadi […]