Hari ke Tiga, Rusuh di AS Belum Berakhir

Berbagi Berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MINNEAPOLIS.SRIBERNEWS–Amerika Serikat (AS) masih mencekam. Kerusuhan dan demonstrasi besar- besaran yang dipicu oleh kematian George Floyd di tangan polisi Minneapolis, Minnesota, AS terus berlangsung sejak 3 hari lalu.
Sejumlah kantor berita seperti Reuters, SFP, SP, dan BBC serta televisi setempat terus melaporkan kejadian tersebuts.

Dilaporkan, ribuan demonstrasi tidak hanya memenuhi berbagai kota, juga merangsek ke Gedung Putih di Washington DC.

Unjuk rasa berskala besar ini terjadi setidaknya di 30 kota di Amerika Serikat.

Di Chicago, demonstran melempar batu ke arah polisi antihuru-hara, yang membalas dengan tembakan gas air mata. Beberapa orang ditahan pada Sabtu.

Polisi di Los Angeles menembakkan peluru karet untuk membubarkan pengunjuk rasa yang membakar mobil polisi. Foto-foto dari lapangan menunjukkan pengunjuk rasa berdiri di atas kendaraan yang telah rusak.

Selama dua hari berturut-turut, gelombang massa pengunjuk rasa berkumpul di depan Gedung Putih di Washington, DC.

Di Atlanta, Georgia, di mana bangunan dirusak pada Jumat, status darurat diberlakukan di wilayah tertentu untuk melindungi warga dan properti.

Ribuan orang juga turun ke jalanan di Minneapolis, New York, Atlanta dan Philadelphia.

Di Atlanta, sekelompok orang membakar satu mobil milik polisi, dan bentrokan antara massa pendemo dan polisi pun terjadi. Penjarahan juga dilaporkan terjadi
Unjuk rasa yang meluas memaksa polisi antihuru-hara melepaskan gas air mata dan peluru karet setelah massa membakar mobil-mobil polisi di beberapa kota.

Tak hanya massa, wartawan pun tak luput menjadi korban. Polisi merespon demonstran dengan brutal.
Beredar video dimana mobil polisi menabrak para demonstran.

Jam malam telah diberlakukan di antaranya di Minneapolis, Atlanta, Los Angeles, Philadelphia, Portland dan Louisville.

Tapi, demonstran di beberapa kota terus mengabaikan jam malam dan penjarahan terus meluas.

Dua awak media Reuters TV terluka akibat tertembak peluru karet di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, saat sejumlah anggota kepolisian berpindah ke wilayah yang dipenuhi sekitar 500 penunjuk rasa di wilayah barat daya kota sesaat setelah jam malam berlaku pada pukul 20:00.

Baca Juga:  Pemuda NKRI Sumsel Bertekat Jaga Kondusifitas

Rekaman video yang diambil juru kamera Julio-Cesar Chavez menunjukkan seorang polisi mengarahkan senjatanya ke dia saat polisi mulai menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan massa.

“Seorang polisi yang saya rekam memutar senjatanya dan mengarahkannya langsung ke saya,” kata Chavez sebagaimana dilansir Antara yang mengutip Reuters.

Beberapa menit setelahnya, Chavez dan penasihat keamanan Reuters, Rodney Seward, kena tembak peluru karet saat mereka berusaha berlindung dekat pom bensin.

Dalam rekaman video itu, mereka berlari untuk berlindung dan beberapa suara tembakan terdengar. Seward juga berseru: “Saya kena tembak peluru karet di wajah”.

Saat ditanya mengenai insiden itu, juru bicara Kepolisian Kota Minneapolis, John Elder, hanya meminta salinan video dan tidak membuat pernyataan apa pun.

Dalam rekaman yang sama, Seward kemudian dirawat oleh seorang petugas medis dekat lokasi kejadian. Area di bawah mata kirinya terluka.

Dua pria itu terluka di bagian lengan, sementara Chavez kena luka di bagian belakang leher.

Wartawan Reuters yang kena tembak peluru karet menggunakan atribut sebagai jurnalis. Chaves tengah memegang kamera dan mengalungi kartu persnya, sementara Seward memakai rompi antipeluru dengan label pers yang terlihat.

Insiden itu merupakan serangan terbaru yang dialami wartawan saat meliput aksi massa di Amerika Serikat setelah George Floyd, seorang warga kulit hitam tewas terbunuh oleh seorang anggota kepolisian, Derek Chauvin. Pelaku pembunuhan saat ini telah dicopot dari kesatuannya dan menerima dua tuntutan pidana.

Sebelumnya, seorang wartawan CNN berkulit hitam juga ditangkap anggota kepolisian saat tengah meliput unjuk rasa di Minneapolis, Jumat (29/5).

Tidak hanya itu, seorang reporter televisi di Louisville, Kentucky, juga sempat berteriak: “Saya tertembak”, saat ia tengah terekam dalam siaran langsung, Jumat. Wartawan itu kemungkinan kena lemparan bola merica.

Baca Juga:  Ajinomoto Mantap Luncurkan Mie Instan Yum.Yum

Kepolisian Louisville meminta maaf atas insiden tersebut.

Komite Jurnalis untuk Kebebasan Pers menerima 10 laporan kekerasan dan ancaman yang diterima wartawan saat meliput unjuk rasa, demikian laporan dari New York Times.

Trump Salahkan Penjarah

President Donald Trump menyalahkan “penjarah dan anarkis” atas aksi kekerasan tersebut

“Saya berdiri di hadapan kalian sebagai teman dan sekutu bagi segenap warga Amerika yang mencari kedamaian,” katanya dalam siaran langsung televisi dari Cape Canaveral di Florida,

Trump menyesali kerusuhan dan penjarahan dan menuduh para “penjarah dan anarkis” melukai kenangan tentang Floyd. Apa yang dibutuhkan, katanya, adalah “pemulihan bukan kebencian, keadilan bukan kekacauan”.

“Aku tidak akan membiarkan massa pengacau mendominasi – tidak akan terjadi,” katanya.

Trump menyalahkan wali kota Minneapolis – kader Partai Demokrat – atas kegagalannya mengendalikan pengunjuk rasa.

Ia menyatakan jika kekerasan tidak juga dapat dikendalikan, maka Garda Nasional akan mengambil alih tugas tersebut.

Pesaing Trump dari Partai Demokrat, Joe Biden, telah menuduh Trump menyulut bigotri dan mereka yang bertanggung jawab atas kematian Floyd harus dihukum.

Keselamatan WNI

Terkait kerusuhan tersebut, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid meminta Perwakilan Indonesia di AS memastikan keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di sana.

“Pemerintah Indonesia melalui Perwakilan Indonesia di AS harus memastikan dan mengikuti dari dekat perkembangan di AS menyusul aksi kerusuhan yang terjadi di sejumlah kota di AS. Apalagi ini punya potensi semakin meluas,” ujar Meutya dalam siaran pers kepada Parlementaria, Minggu (31/5/2020).

Ia juga meminta perwakilan RI di AS untuk menghubungi WNI secara acak untuk memastikan kondisi keamanan mereka.

“Terus berikan informasi melalui website resmi maupun hotline atau aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Luar Negeri RI untuk memberikan kondisi dan informasi secara update. Sekaligus juga memberikan imbauan agar WNI di sana, sebisa mungkin untuk tidak keluar rumah hingga situasi aman terkendali,”katanya.DBS