Ketua PA 212: Menag Terburu-buru Keluarkan Panduan Ibadah Puasa

Berbagi Berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA.SRIBERNEWS–Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif menilai Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi terlalu terburu-buru dalam mengeluarkan surat edaran panduan ibadah puasa, yang intinya mengimbau umat muslim untuk buka puasa dan solat terawih di rumah masing-masing selama pandemi corona atau Covid-19.

“Mestinya Menag tidak terburu-buru mengeluarkan imbaun tersebut, terkesan pesimistis terhadap penanganan Covid-19 atau memang pemerintah tidak serius menangani? katanya kepada wartawan, Selasa (7/4/2020).

Menurut dia, seharusnya Kemenag bisa lebih merinci untuk menentukan mana umat muslim yang masih boleh melangsungkan solat berjamaah di masjid.

“Itu bisa disesuaikan dengan tingkat bahya Covid-19 di masing-masing wilayah,” katanya.

Dia mengajak semua umat muslim untuk berdoa bersama agar wabah corona ini segera berakhir.

Imbauan Menag

Sebelumnya, Menag Fachrul Razi mengimbau umat muslim di Indonesia melaksanakan ibadah shalat tarawih dan tadarus di rumah selama bulan Ramadhan 2020 guna mencegah penularan virus corona (Covid-19).

“Salat Tarawih cukup dilakukan secara individual atau berjemaah bersama keluarga inti di rumah,” kata Fachrul sebagaimana dilansir laman Kemenag pada Senin (6/4/2020).

“Tilawah atau tadarus Al-Quran [sebaiknya] dilakukan di rumah masing-masing, berdasar perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Qur’an,” tambah dia.

Dia juga mengajurkan agar umat muslim tidak melakukan tradisi sahur on the road maupun buka puasa bersama, mengingat kegiatan ini biasa melibatkan banyak orang serta kerumunan.

“Sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti, tidak perlu sahur on the road atau ifthar jama’i [buka puasa bersama],” ujar dia.

“Buka puasa bersama, baik yang dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan,” demikian imbauan Fachrul.

Imbauan tersebut juga tercantum dalam Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 6 Tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441H di tengah Pandemi Covid-19.

Surat Edaran ini ditujukan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kankemenag Kab/Kota, dan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) seluruh Indonesia.

“Surat Edaran ini dimaksudkan untuk memberikan panduan beribadah yang sejalan dengan Syariat Islam sekaligus mencegah, mengurangi penyebaran, dan melindungi pegawai serta masyarakat muslim di Indonesia dari risiko Covid-19,” jelas Fachrul.

Fachrul menyatakan Surat Edaran ini diterbitkan untuk memberikan panduan beribadah bagi umat muslim, yang sejalan dengan Syariat Islam, di tengah pandemi Covid-19. Panduan ini, tambah dia, berlaku selama masa darurat pandemi corona diberlakukan.

Baca Juga:  Kampanye Terakhir Paslon 02, Tangerang pun Pecah

“Semua panduan di atas dapat diabaikan bila pada saatnya telah diterbitkannya pernyataan resmi Pemerintah Pusat, untuk seluruh wilayah negeri, atau Pemerintah Daerah untuk daerah masing-masing, yang menyatakan keadaan telah aman dari Covid-19,” tambah Fachrul.

Selain terkait ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, surat edaran ini mengatur tentang panduan pengumpulan dan penyaluran zakat.

Baca juga: Jadwal Sidang Isbat Ramadhan 2020 yang Digelar Secara Online
Berikut ini panduan lengkap ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri saat pandemi Corona, seperti tertuang dalam Surat Edaran Nomor 6 tahun 2020 yang diterbitkan Kemenag.

1. Umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan baik berdasarkan ketentuan fikih ibadah.

2. Sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti, tidak perlu sahur on the road atau ifthar jama’i (buka puasa bersama).

3. Salat Tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah.

4. Tilawah/tadarus Al-Qur’an dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah SAW untuk menyinari rumah dengan tilawah Al-Qur’an.

5. Buka puasa bersama, baik yang dilaksanakan di lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala, ditiadakan.

6. Peringatan Nuzulul Qur’an dalam bentuk tablig dengan menghadirkan penceramah dan massa dalam jumlah besar, baik di lembaga pemerintahan, swasta, masjid maupun musala, ditiadakan.

7. Tidak melakukan iktikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadan di masjid/musala.

8. Pelaksanaan Salat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan, untuk itu diharapkan terbitnya Fatwa MUI menjelang waktunya.

9. (Masyarakat diminta) agar tidak melakukan kegiatan sebagai berikut:

-Salat Tarawih keliling

-Takbiran keliling (Kegiatan takbiran cukup dilakukan di masjid musala dengan pengeras suara)

-Pesantren Kilat, kecuali melalui media elektronik.

10. Silaturahim atau halal bihalal yang lazim dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri, bisa dilakukan melalui media sosial dan video call/conference.

11. (Imbauan) Pengumpulan Zakat Fitrah dan/atau ZIS (Zakat, Infak, dan Shadaqah):

-Mengimbau kepada segenap umat muslim agar membayarkan zakat hartanya segera sebelum puasa Ramadan sehingga bisa terdistribusi kepada Mustahik lebih cepat.

-Bagi Organisasi Pengelola Zakat untuk sebisa mungkin meminimalkan pengumpulan zakat melalui kontak fisik, tatap muka secara langsung dan membuka gerai di tempat keramaian. Hal tersebut diganti menjadi sosialisasi pembayaran zakat melalui layanan jemput zakat dan transfer layanan perbankan.

-Organisasi Pengelola Zakat berkomunikasi melalui unit pengumpul zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah yang berada di lingkungan masjid, musala, dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat, untuk menyediakan sarana cuci tangan pakai sabun dan alat pembersih sekali pakai (tissu) di lingkungan sekitar.

Baca Juga:  AHY Pimpin Safari Perdana Demokrat di Jatim

-Memastikan satuan pada Organisasi Pengelola Zakat, lingkungan masjid, musala dan tempat lainnya untuk melakukan pembersihan ruangan dan lingkungan penerimaan zakat secara rutin, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer, papan tik (keyboard), alat pencatatan, tempat penyimpanan dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan. Gunakan petugas yang terampil menjalankan tugas pembersihan dan bahan pembersih yang sesuai untuk keperluan tersebut.

-Mengingatkan para panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan/atau ZIS untuk meminimalkan kontak fisik langsung, seperti berjabat tangan ketika melakukan penyerahan zakat.

12. (Imbauan) Penyaluran Zakat Fitrah dan/atau ZIS (Zakat, Infak, dan Shadaqah):

-Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan/atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat, agar menghindari penyaluran zakat fitrah kepada Mustahik melalui tukar kupon dan mengadakan pengumpulan orang.

-Organisasi Pengelola Zakat Fitrah dan/atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat, agar menghindari penyaluran zakat fitrah kepada Mustahik melalui tukar kupon dan mengumpulkan para penerima zakat fitrah.

-Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan/atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat, agar melakukan penyaluran dengan memberikan secara langsung kepada Mustahik.

-Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat, agar proaktif melakukan pendataan Mustahik dengan berkoordinasi kepada tokoh Masyarakat maupun Ketua RT dan RW setempat.

13. Petugas yang melakukan penyaluran zakat fitrah dan/atau ZIS agar dilengkapi dengan alat pelindung kesehatan seperti masker, sarung tangan dan alat pembersih sekali pakai (tissue).

14. Dalam menjalankan ibadah Ramadan dan Syawal, seyogyanya masing-masing pihak turut mendorong, menciptakan, dan menjaga kondusifitas kehidupan keberagamaan dengan tetap mengedepankan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

15. Senantiasa memperhatikan instruksi Pemerintah Pusat dan Daerah setempat, terkait pencegahan dan penanganan Covid-19. DBS