Belum Final, Valuasi Bank Permata

JAKARTA.Sribernews.com –Direktur Utama PT Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo, menampik rumor yang menyatakan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Permata Tbk menyepakati valuasi akuisisi

“Baru due diligence. Minggu ini mulai negosiasi, tapi kami masih bisa fifty-fifty. Kalau cocok harganya, ya jalan. Namanya juga negosiasi, kan bisa cocok bisa tidak,” kata Tiko, panggilan akrab Kartika Wirjoatmojo, di Mandiri Club Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Menurut Tiko, koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah dilakukan. Tapi memang belum ada izin resmi dari kedua otoritas tersebut.

Terkait, kepemilikan anak perusahaan yang bergerak di jasa perbankan, Tiko menyatakan akan ada merger karena tidak mungkin memiliki tiga anak usaha yang bergerak di bidang yang sama.

“Kami tidak mungkin punya anak usaha bank tiga, kalau pun dikasih kelonggaran. Jadi kami harus merger salah satu, tapi kemana belum tahu. Itu masih omongan dua tiga tahun ke depan, masih jauh,” ujar Tiko.

Kabar akuisisi muncul karena Standard Chartered Bank sebagai pemilik saham Bank Permata berencana melepas sahamnya. Tercatat, Standard Chartered Bank memegang 44,56 persen saham Bank Permata.

Selain Standard Chartered Bank, PT Astra International Tbk (ASII) memiliki 44,56 persen saham perusahaan dengan kode BNLI itu. Sisanya, sebanyak 10,88 persen beredar di publik.

Kabar divestasi oleh Standard Chartered Bank sebenarnya sudah berembus sejak 2015 saat kinerja bank tersebut mulai menurun. Namun, hal tersebut beberapa kali dibantah oleh Standard Chartered Bank.

Penurunan kinerja Bank Permata mulai terlihat sejak 2015. Kala itu, laba perseroan anjlok 84 persen dari 1,59 triliun tahun sebelumnya menjadi Rp247 miliar. Pada 2016, Bank Permata bahkan mencatatkan rugi mencapai Rp6,48 triliun.

LAPORAN : NATASA SERA
EDITOR : H. ERYANI

Redaksi Sribernews

Next Post

ABAC Dorong Peran Perempuan dan Kewirausahaan

Tue Apr 9 , 2019
JAKARTA.Sribernews.com–APEC Business Advisory Council (ABAC) sangat mendorong keterlibatan perempuan dalam meningkatkan peran perempuan dan kewirausahaan dalam inklusif ekonomi. Ini terlihat dalam agenda pembahasan ABAC II yang akan diselenggarakan pada 23-26 April 2019 mendatang. “Partisipasi perempuan dalam ekonomi merupakan salah satu faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik. Dan […]