Rizal Ramli : Prabowo Siap Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Berbagi Berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA—Ekonom senior Rizal Ramli mengatakan Capres 02 Prabowo Subianto sudah meminta nasehat dirinya mengenai langkah-langkah untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 8 persen. Prabowo Subianto memang sudah siap untuk menjadi presiden.
Demikian dikemukakan Rizal, yang memandang sistem makro ekonomi yang selama ini diterapkan bersifat konservatif. Sehingga tidak mengherankan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya terhenti di angka 5 persen per tahun.

Menurutnya, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sudah meminta langkah-langkah untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen.

“Caranya dalam waktu 100 hari kerja akan langsung mengambil kebijakan menurunkan tarif dasar listrik, agar kaum ibu mampu menghemat uang beluarhingga Rp 600 ribu per bulan,” kata Rizal usai menghadiri deklarasi alumni perguruan tinggi se-Sumsel pendukung 02 di Palembang, Senin (1/4/2019).

Baca Juga:  Big Data Unggulkan Prabowo

Langkah berikutnya, lanjut Rizal, menurunkan harga bahan makanan dari itu ibu-ibuyang bisa berhemat Rp50 ribu per bulan, sehingga dalam satu bulan bisa menghemat 1,5 juta rupiah.
Kemudian ditambah penghematan listrik tadi membuat mereka memiliki daya beli.

“Dampaknya, sektor ritel akan hidup kembali, dan ekonomi otomatis akan bertambah 1 persen,” lanjutnya.

Capres Prabowo juga ingin membangun 1 juta unit rumah untuk rakyat setiap tahun. Dengan membangun 1 juta unit rumah setiap tahun, lapangan kerja akan bertambah 3,5 juta baik langsung maupun tidak langsung. Kemudian, ekonomi akan kembali terdorong 1,5 persen.

“Nah dari situ saja artinya sudah bisa menambah pertumbuhan ekonomi hingga 7,5 persen, belum lagi rencana pengembangan sawah dan lain-lain,” kata mantan menko bidang maritim dan sumber daya ini.

Baca Juga:  Warga Desa Ini Deklarasi Dukungan Jokowi Ma'ruf

Rizal mengaku prihatin banyak petani kebun di luar Jawa, khususnya Sumatera dan Sulawesi mengeluhkan anjloknya sejumlah harga komoditi perkebunan. Seperti sawit yang anjlok hingga di bawah Rp 10 ribu per kilogramnya, sementara biaya panen dan angkutnya saja sudah lebih dari Rp20 ribu.

Padahal, menurut Rizal, seharusnya dana dari akumulasi pajak ekspor sawit yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah tidak dibagikan kepada perusahan sawit besar. Justru dana itu bisa dipakai untuk menetapkan harga dasar sawit. Sehingga membuat harganya bisa lebih tinggi. begitu juga dengan kopra, karet, segalanya,

“Jelas sekali kalau pemerintah sekarang tidak mampu mencari solusi yang cerdas, dan cenderung ngasal,” katanya.

LAPORAN : HER
EDITOR : H. ERYANI