Cegah Kekerasan Anak dengan Preventif Edukatif

JAKARTA. Sribernews.com–Kasus kekerasan fisik maupun seksual pada anak di Indonesia berada dalam level tinggi.

“Kondisi ini membutuhkan suatu tindakan pencegahan yang melibatkan seluruh masyarakat, bukan hanya pemerintah.,” kata aktivis Pemerhati Anak Rostin Ilyas usai konferensi pers kasus penganiayaan anak AY di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Menurut Rostin, kasus terkait kekerasan pada anak bukan membutuhkan suatu tindakan yang berdasarkan kejadiannya. Tapi suatu tindakan pencegahan dan edukasi yang dimulai sejak anak dari kecil.

Dia berharap ada kementerian khusus yang menangani anak. Karena anak adalah manusia yang utuh, bukan manusia dewasa yang dipotong menjadi dua.

“Jadi dibutuhkan suatu perlakuan yang utuh juga, mulai pre natal hingga dia berumur 18 tahun. Dan saat ini kan tidak ada,” kata Rostin

Jika ingin melindungi anak, maka dibutuhkan suatu kementerian yang khusus untuk anak.

Dia mengaku sudah banyak menangani kasus kekerasan pada anak. Setiap kali saat ingin berbicara tentang pentingnya, yang dikirim eselon 3 atau orang-orang yang bukan pemegang keputusan.

“Akhirnya setiap kali terjadi kasus, yang ada hanya tindakan reaktif,” ujarnya.

Dalam penilaiannya, titik kritis tingkat kekerasan anak sudah melewati batas di Indonesia. Tapi pemerintah, masih seakan-akan tidak peduli dengan kondisi ini.
“Kita sudah capek sebenarnya, tapi kita tetap harus bertindak. Kita tidak bisa bergabung semuanya pada pemerintah pusat,” kata Rostin lebih lanjut.

Rostin mengungkapkan perlu juga adanya revisi pada UU Perlindungan anak, yang menurutnya tidak dimengerti oleh masyarakat.

“Yang perlu didorong, adalah pemerintah daerah untuk mengambil peran lebih aktif. Kan yang mengerti itu mereka,”a katanya.

Setiap daerah membutuhkan cara yang berbeda untuk menangani anak pada lingkungan mereka. Harus dilibatkan nilai-nilai yang sesuai dengan daerah tersebut, yaitu kearifan lokal.

Rostin beharap masyarakat mau membangun suatu kelompok atau komunitas yang mendorong anak untuk dapat berkomunikasi seperti kelompencapir gitu. Anak bisa belajar untuk berkomunikasi. Belajar mencerdaskan informasi dan juga belajar tentang hal positif dan negatif. Tentunya dengan dibimbing oleh pihak yang tepat.

LAPORAN : NATASHA SERA
EDITOR : H. ERYANI

Next Post

Isu Mobilisasi Massa Warnai Kampanye Paslon 01

Sat Apr 13 , 2019
JAKARTA.Sribernews.com–Di tengah keriuhan kampanye, di jagat medsos beredar isu jika […]