Kementerian PPA Kawal Kasus AY

Berbagi Berita
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA.Sribernews.com–Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) berkomitmen mengawal kasus penganiayaan AY yang terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat.
Kemen PPA juga akan memberikan solusi terbaik bagi korban dan pelaku.

“Tim KemenPPPA sudah bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalimantan Barat dan Kota Pontianak, Polresta Pontianak, dan para psikolog untuk menangani dan mendampingi korban yang saat ini masih di rawat di RS Mitra Medika,” kata Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Pribudiarta Nur Sitepu saat konferensi pers penanganan kasus kekerasan AY di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Baca Juga:  Sekjen KAHMI : Harkitnas, Gugah Kesadaran Kolektif, Bangkit Menangkan Persaingan Global.

Pribudiarta menyebutkan hingga saat ini korban masih terus mendapatkan penanganan trauma healing dari psikolog.

“Sementara, ada rencana dari pihak rumah sakit untuk melakukan hypnotherapy bagi korban. Kami mengharapkan korban bisa pulih dengan baik,” ujar Pribudiarta.

Berdasarkan hasil visum dari RS Mitra Medika, kasus ini termasuk kategori penganiayaan ringan. Untuk itu, pihak Polresta Kota Pontianak menetapkan pasal 80 ayat 1 UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada tiga tersangka.

“Kami menghargai setiap proses hukum yang berlaku. Tapi mengingat para pelaku masih dalam kategori anak-anak, kami meminta penanganan kasus ini tidak gegabah. Perlu dipahami penyebab anak melakukan penganiayaan agar bisa dilakukan penanganan yang tepat,” ujar Pribudiarta.

Baca Juga:  Amar Bank: “Learn More, Earn More, Have Fun!”

Dalam keterangan tertulisnya, Menteri PPPA Yohana Yembise menekankan pentingnya pendampingan pada korban dan pelaku, yang masih masuk dalam kategori anak.

“Saya berharap kasus ini tetap dikawal sampai selesai dan menemukan jalan terbaik bagi semua pihak. Korban didampingi untuk proses trauma healing dan pelaku didampingi untuk pemulihan pola pikir atas tindakan yang telah dilakukan. Paling penting, kita harus memastikan pemenuhan hal-hal mereka. Sebagai korban dan pelaku, mereka tetap anak-anak kita. Sudah seharusnya kita lindungi dan kita luruskan jika mereka berbuat salah,” kata Yohana.

LAPORAN : NATASHA SERA
EDITOR : H. ERYANI