Habib Bahar bin Smith Ingin Mencari Tahu yang Sesungguhnnya

JAKARTA.SRIBERNEWS.COM–
Terdakwa kasus dugaan penganiayaan Habib Bahar bin Smith mengatakan penganiayaan yang dilakukannya terhadap CAJ dan MKU didasari atas keinginan mencari tahu yang sesungguhnya terjadi atau bertabayun.

Demikian diungkapkan Habib Bahar ketika membacakan nota keberatan atau pleidoi di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung, Kamis (20/6/2019).

Menurut dia, hal yang ingin diketahuinya saat itu adalah informasi soal dua muridnya yang mengaku sebagai habib dalam sebuah acara di Bali tahun lalu. Mereka adalah CAJ dan M.

“Kalau membabi-buta, tidak mungkin saya suruh murid saya untuk menjemput dan membawa ke pondok, padahal saya punya ratusan ribu murid di daerah Jawa Barat apalagi Bogor,” kata dia.

Jaksa menuntut Bahar dengan pidana kurungan selama 6 tahun dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan.

Bahar dianggap melanggar Pasal 333 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, Pasal 170 ayat 2 ke-2 KUHP, dan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam dakwaannya jaksa menyebut Bahar diduga telah mengniaya saksi korban Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khairul Umam Al-Muzaki di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, Kemang, Bogor.

Menurut Jaksa, penganiayaan tersebut bermula saat saksi korban Cahya dan Khairul Umam melakukan kunjungan ke Seminyak, Bali.

Kemudian seseorang bertanya dan menyebut Cahya Abdul Jabar sebagai Bahar Smith.

“Kemudian atas perintah dari M khairul Umam, Cahya disuruh mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith yang dari dulu sudah mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar bin Smith. Lalu saksi Cahya menjawab ya,” ujar jaksa.

Setelah Bahar mengetahui Cahya mengaku sebagai dirinya, Bahar meminta rekannya bernama Hamdi untuk menghubungi Abdul Basith untuk mencari kediaman korban.

Basith turut jadi terdakwa dalam kasus ini bersama Aqil Yahya yang turut serta menganiaya. Penganiayaan terjadi saat Cahya Abdul Jabar dan Khairul dibawa ke Ponpes Tajul Alawiyin yang didirikan oleh Bahar. (dbs)

Redaksi Sribernews

Next Post

Fakta Miris dan Menyedihkan atas Perlakuan kepada Saksi 02 di MK

Thu Jun 20 , 2019
Oleh: M Said Didu Sekelumit situasi dan tantangan sebagai saksi penggugat di Mahkamah Konstitusi. 1. Dibutuhkan orang bernyali kuat untuk menjadi saksi di MK dengan posisi sebagai saksi yang berhadapan dengan penguasa. Dan alhamdulillah masih ada yang bersedia dengan resiko dan pengorbanan yang tinggi 2. Saksi 02 ibarat harus berjuang […]