Curang, Malukah Kita ?

Oleh Kiagus M. Tohir Gadjahnata

Curang. Kosa kata pendek ini belakangan sedang marak di masyarakat baik dalam ujaran lisan di pojok-pojok kantin perkantoran saat makan siang dan di kedai-kedai kopi yang belakangan sedang menjamur, maupun dalam bentuk tulisan di media-media sosial.

Ya, kata ini belakangan sepertinya memenuhi benak kita, sebagai reaksi normal atas situasi “menekan” yang sedang terjadi di depan mata, sehingga terlontarlah dalam frekuensi yang cukup tinggi.

Curang, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dimaknai sebagai: berlaku tidak jujur, sifat tidak lurus hati, tidak adil. Dari definisi ini, secara tidak langsung kita dapati bahwa lawan kata dari curang adalah jujur, lurus hati, adil.

Pada dasarnya, perbuatan curang itu tidak disukai semua orang. Secara naluriah tentu orang akan menolak jika perlakuan itu menimpa dirinya. Namun bagaimana jika sebagai pelaku? Apakah kita juga akan menolaknya? Apakah dalam situasi dimana terbuka peluang untuk kita berlaku curang, kita akan melakukannya?

Di sinilah jati diri kita yang sebenarnya sedang diuji. Tidak salah jika ada satu ungkapan cukup dikenal beberapa tahun silam, di ujung satu acara di televisi, sang host berucap: “Kejahatan, itu terjadi karena ada niat dan kesempatan. Waspadalah… Waspadalah!”. Anda tentu sependapat jika curang juga dapat dikategorikan sebagai suatu kejahatan. Oleh karena itu, curang juga dapat terjadi jika terpenuhi 2 kondisi: ada niat dan ada kesempatan.

Bulan-bulan belakangan, terutama di minggu-minggu terakhir ini, panca indera kita sedang terfokus pada suatu perhelatan akbar nan penting yaitu Pemilu serentak: Pilpres dan Pilleg.

Sebagai institusi yang ditugaskan undang-undang untuk melaksanakan Pemilu dengan baik dan benar, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) telah mengeluarkan peraturan-peraturan pelaksana agar pemilu terlaksana sesuai dengan mottonya Jujur dan Adil (Jurdil).

Tentu motto ini disukai sebagian besar masyarakat pemilik suara jika tidak ingin dikatakan seluruhnya, mengingat sebagaimana lawan katanya, curang, tidak disukai sebagian besar masyarakat kita.

Maaf, penulis tidak berani mengatakan seluruh masyarakat, sebagaimana dalam teori homogenitas relatif, dalam populasi yang homogen sekalipun, tetap ada penyimpangan minor sepersekian persen.

Sebab itu, tugas Bawaslu sungguh berat dan tidak main-main menjaga netralitas pelaksanaan Pemilu, terlebih Pilpres, tanpa mengecilkan Pilleg.

“Taji” mereka benar-benar sedang diuji oleh fakta-fakta pelaksanaannya di lapangan, baik di dalam negeri pada tanggal 17 April 2019 maupun di luar negeri sebelum tanggal itu.

Jika terjadi distorsi antara pelaksanaan rill dengan peraturan, maka kewajiban lembaga ini menyelidikinya dengan semangat “Full Disclosures”.

Terlepas dari banyaknya rekaman video-video amatir masyarakat yang bersemangat tinggi merekam dan menyebarkan peristiwa kecurangan pemilu di seantero negeri, salah satu peristiwa paling fenomenal tentunya yang terjadi di KBRI Kuala Lumpur, Negeri Jiran. Ya, fenomenal bukan hanya dari sisi kuantitas surat suara yang dicurangi, namun juga dari sisi “kualitas” kecurangannya.

Bayangkan, KPPSLN-nya adalah sang Dubes sendiri, surat suara pilpres sudah ditusuk di gambar paslon 01, paslon yang didukung partai tempat sang Dubes bernaung. Nama/nomor caleg DPR RI yang sudah ditusuk adalah milik anak sang Dubes.

Dokumen-dokumen bukti kecurangan itu saat ini (semoga) masih tersimpan di Kepolisian Diraja Malaysia.

Belum lepas keterkejutan kita atas kejadian itu, ternyata mata dan telinga kita disuguhi pula dengan kecurangan sejenis, di KBRI-KBRI negara-negara sahabat lainnya, meski dengan “kualitas” dan kuantitas berbeda.

Jika kejadian itu hanya terjadi di KBRI Malaysia saja, mungkin sebagian kita akan berucap itu hanya kasuistik. Tapi setalah fakta-fakta rekaman video amatir viral di media sosial, bukti tersebut menunjukkan kejadian sejenis terjadi di banyak negara sahabat.

Apakah hal ini masih dapat disebut kasuistik? Tentu akal sehat kita menolak premis itu. Kejadian-kejadian tersebut membuat Pemerintah RI sedang jadi sorotan dunia.

Tidak berlebihan jika saat ini, mungkin, mata dan pikiran dunia sedang mempertanyakan sampai dimana tingkat kejujuran bangsa kita? Atau dengan bahasa lain, seberapa parahkah tingkat kecurangan bangsa kita?

Tentu tak elok jika kita menyalahkan mereka yang mengarahkan telunjuknya ke depan hidung kita. Tidakkah kita malu? Malu sebagai pribadi, sebagai pemimpin, sebagai bangsa yang besar? Tergantung. Malu, jika kita berpendapat bahwa kecurangan adalah salah satu bentuk kejahatan dan kejahatan adalah suatu yang membuat malu. Tidak, jika kita berpendapat sebaliknya.

Tidaklah berlebihan, jika dalam salah satu sabdanya Nabi Muhammad SAW berujar: “ Lakukanlah sekehendakmu, jika kamu tidak malu” (Al Hadits).

Blessing in disguise, peristiwa-peristiwa kecurangan masif di pemilu kali ini, semoga menggugah kesadaran kolektif kita, bahwa sedang ada “kebengkokan hati dan pikiran” di dalam masyarakat kita, terlepas dari apapun penyebab-penyebab utamanya yang tentu saling berkaitan.

Daripada menuding pihak lain, lebih elok jika kedepan penyakit moral ini kita jadikan musuh bersama, untuk kita perangi dengan “Perang Total” dan “Revolusi Mental” yang sesungguhnya.

Caranya? Awali dengan perbaikan kualitas dan kuantitas pendidikan moral agama kita sejak dini, termasuk kesungguhan kita masing-masing sebagai orang tua, terlebih pemimpin, memberi keteladanan prima dengan keselarasan antara Kata dan Laku.

“Cacat” generasi kita saat ini, cukuplah kita kubur dalam bagian sejarah kelam bangsa. Kedepan, harapan pada generasi berikut tidak lagi kita temukan kecurangan-kecurangan yang memalukan sekecil apapun. Sehingga nanti, dalam waktu sangat dekat, kita akan lazim mendengar ujaran: “ Apa? curang?… malu Bro!

Kiagus M. Tohir Gadjahnata

Mantan Bankir Syariah, Pegiat Dakwah & Spiritual Training,

Pemerhati Masalah Sosial

Redaksi Sribernews

Next Post

Traveloka Hadirkan Epic Sale 2019

Mon Apr 22 , 2019
JAKARTA.Sribernews.com–Para pengguna Traveloka sebentar lagi akan dapat menikmati potongan harga terbatas yang luar biasa melalui program khusus Traveloka Epic Sale. Sufintri Rahayu, PR Director Traveloka, mengatakan program yang akan berlangsung pada 24-27 April mendatang ini merupakan bagian dari komitmen Traveloka, perusahaan teknologi penyedia produk Travel & Lifestyle terkemuka di Asia […]