The China’s Corona Effect, Pencegahan vs Pengobatan

  • Bagikan
0 IMG 20200219 WA0081
Cloud Hosting Indonesia

Oleh: Kiagus M. Tohir Gadjahnata (*)

Jika dalam dunia pendidikan dikenal pepatah “Pengalaman adalah Guru terbaik”, maka di dunia kesehatan kita mengenal pepatah bijak yang setara: “Pencegahan adalah pengobatan yang terbaik”.

DomaiNesia

Ya, pencegahan, anda boleh percaya boleh tidak, tak pelak menjadi “obat” terbaik. Setidaknya hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa pengalaman penulis, bahwa mencegah sebelum terjadi suatu musibah, cost-nya lebih rendah dibanding pengeluaran expenses kita, jika sudah mengalami musibah yang semula tidak kita mitigasi secara semestinya tersebut. Contoh analogi sederhana, dalam bidang transportasi; cost yang kita keluarkan dengan mengecek keandalan sistem rem, keandalan pedal kopling, ban, setir dan kaca spion, sebelum berkendara, tentu lebih rendah dibandingkan jika kita mengalami tabrakan mobil yang kita kendarai, gegara piranti-piranti berkendara tadi tidak prima.

Berapa expenses yang harus kita keluarkan untuk biaya berobat di rumah sakit, perbaikan mobil di bengkel dan tetek bengek lainnya tentu jauh lebih besar. Bahkan, jika kecelakaan tadi mengakibatkan kehilangan anggota keluarga, tentu dampak biaya intangiable-nya menjadi tak ternilai .

Dalam satu dua bulan terakhir ini dunia dihebohkan oleh berita terkait epidemi penyakit di Wuhan propinsi Hubei, RRC yang sanggup memaksa pemerintah negeri panda ini mengkarantina hampir 11 juta penduduk Wuhan (jumlah ini bisa lebih jika dihitung juga karantina di kota-kota lain).

Penyakit yang menyerang sistem pernafasan ini yang menurut ahli kesehatan ditimbulkan oleh sejenis mutan virus berkode NCorona Virus (NCoV), ditenggarai kuat ditularkan oleh Kelelawar-sejenis mamalia terbang- ini, ternyata telah menjangkiti tidak hanya penduduk kota Wuhan, namun juga telah menyebar ke beberapa beberapa kota di RRC, bahkan juga beberapa negara di dunia, akibat interaksi dengan masyarakat Wuhan. Hal terakhir inilah yang “memaksa” WHO mengeluarkan warning statement khusus tentang wabah itu, ke seluruh negara anggota PBB.

Beberapa ahli peneliti virus dan biomoleculer di RRC sebelumnya pernah memprediksi terjadinya mutasi gen virus yang merupakan keluarga dari virus yang ditahun 2003 silam pernah menimbulkan wabah SARS dan tahun 2012 menyebabkan MERS ini. Sebagian dari mereka bahkan pernah menuliskan jurnal-jurnal ilmiah internasional tentang virus dimaksud dan kemungkinan perkembangan serta perubahan sifatnya.

Salah satu bentuk perubahan sifat akibat mutasi gen virus dimaksud, adalah model penyebarannya. Menurut para ahli tersebut, awalnya model penyebaran virus ini adalah dari hewan ke hewan (animal to animal), lalu menjadi hewan ke manusia (animal to human) dan terakhir, ini yang meningkatkan eskalasi bahaya, manusia ke manusia (human to human).

Baca Juga:  BNI Syariah Promo Kartu ATM Haji

Pada kesempatan ini penulis tidak bermaksud mendalami model, metode atau teknis penyebarannya akibat mutasi gen tersebut, karena itu menjadi bagian para ahli virology. Tetapi perlu menjadi fokus perhatian serius kita semua dalam hal ini adalah upaya mencegah semakin meluasnya penularan penyakit ini dari hewan ke manusia, terkait dengan kebiasaan dan selera makan sebagian masyarakat yang tergolong ekstrim dan cenderung berlebihan.

Sebagaimana sudah tersebar di beberapa media sosial, adanya kebiasaan mengkonsumsi hewan-hewan tertentu di masyarakat China dan Wuhan khususnya yang bagi masyarakat di belahan dunia lain tergolong tidak lazim, seperti Kelelawar, Babi, Anjing, Tikus, Ular diakui menjadi pencetus awal merebaknya kasus penyakit yang menyerang pernafasan ini. Akibat mengkonsumsi kelelawar dan babi yang terjangkit virus, ditambah dengan cara penyembelihan dan pengolahannya yang tidak higienis, masyarakat Wuhan tertular, lalu pada gilirannya menulari lagi anggota masyarakat di kota-kota lain di RRC, bahkan negara-negara lain.

Kebiasaan pola makan ekstrim dengan mengkonsumsi hewan-hewan yang tak lazim ini, diakui atau tidak, ternyata bukan hanya monopoli masyarakat China, Wuhan khususnya, tapi juga menjadi kebiasaan di sebagian masyarakat kita, seperti di Tomohon, Menado, Sulawesi Utara, serta beberapa kota lain di Sumatera Utara, Bali dan Papua.

Nah, jika penyebaran virus NCoV ini di Wuhan, China, diakui akibat mengkonsumsi kelelawar, babi dan hewan-hewan tak lazim lainnya itu, maka bukanlah mustahil pola kebiasaan makan yang mirip di sebagian masyarakat kita tadi juga berpotensi menimbulkan dampak bahaya yang sama bagi kesehatan masyarakat kita.

Kemungkinan adanya korelasi hal di atas sementara ini dibantah oleh para pedagang di pasar hewan-hewan “ekstrim” tersebut. Namun apakah itu cukup meyakinkah kita? Apakah bantahan itu tak lebih didasari kekhawatiran para pedagang akan turunnya omset pemasaran mereka belaka?

Apakah sudah ada bukti empiris bahwa kelelawar, babi dan atau hewan-hewan lainnya itu disini belum tertular virus yang sedang menjadi sorotan dimaksud?

Masalah lain yang juga wajib diwaspadai, terkait penularan virus secara human to human, adalah masih terus berlangsungnya arus masuk TKA dan “turis-turis” dari RRC ke negeri kita, baik melalui bandar udara maupun pelabuhan-pelabuhan. Meski di beberapa bandara telah dipasang alat detector suhu tubuh serta beberapa petugas kesehatan yang memonitor kemungkinan adanya penumpang yang terpapar, tetap saja resiko lolosnya penumpang yang terduga tertular cukup besar.

Baca Juga:  Kelola dan Daur Ulang Sampah, Kota Tegal Ajak Masyarakat dan Kota-kota di Indonesia Dorong Ekonomi Sirkular

Seperti diketahui, penularan virus ini secara animal to human maupun human to human membutuhkan masa inkubasi beberapa hari sampai bener-benar terbukti terjangkit. Dengan demikian, jika saat mendarat di Indonesia penumpang yang terduga terpapar ini belum melawati masa inkubasi virus, maka loloslah mereka dari pantauan. Pemeriksaan dengan seksama terhadap TKA China yang sudah berjumlah ribuan di negara kita oleh aparat kesehatan kita juga patut ditingkatkan

Berkenaan dengan kemungkinan resiko besar yang pada saatnya akan menjadi sulit dikendalikan, akibat penularan viris corona ini di negeri kita, karena faktor “percaya diri” yang membuat kita abai, maka menurut hemat kami tidak ada jalan yang lebih baik dan lebih bijak bagi pemerintah dan seluruh stakeholder bidang kesehatan, selain kembali kepada prinsip dasar dalam dunia ; “Pencegahan lebih baik daripada Pengobatan.

Bagaimana langkah strategis serta teknisnya? Tentu pilihan bijaknya adalah Pemerintah, melalui pemerintah daerah yang telah disebutkan tadi, menutup sementara pasar-pasar yang menjual “hewan-hewan “ekstrim” terutama kelelawar dan babi.

Para pedagangnya diminta untuk sementara beralih menjual daging hewan-hewan yang lazim dan halal, seperti sapi, kambing, rusa, kelinci dan sebagainya. Sebagian masyarakat juga dihimbau untuk menghentikan kebiasaan mengkonsumsi makanan-makanan dimaksud, setidaknya untuk sementara sampai wabah ini reda. Ini tak lain sebagai upaya optimal memutus mata rantai penularan virus dari animal to human.

Langkah simultan lain, mencegah penularan human to human, adalah menutup arus masuk TKA dan atau turis-turis dari RRC. Termasuk jika diperlukan untuk lebih berhati-hati, menghentikan juga untuk sementara arus masuk barang-barang konsumsi dari China, seperti buah-buahan segar maupun kalengan dan sejenisnya. Perihal teknisnya tentu pemerintah bisa berkomunikasi dengan baik kepada pihak RRC melaui Dubesnya yang ada di Jakarta.

Pemerintah kita bisa berkaca kepada pemerintah Jepang, Malaysia, sebagian besar negara di Eropa, Amerika, bahkan sekutu dekat RRC yakni Korea Utara yang secara tegas menghentikan penerbangan dari dan ke RRC, untuk mencegah arus amasuk orang (dan barang) dari RRC ke negara mereka. Ini menunjukkan pemerintah negara-negara tersebut sangat paham dengan tupoksi mereka melindungi warga negaranya masing-masing sebagai prioritas tertinggi, yang tentunya diatur di dalam UUD dan Undang-undang di tiap-tiap negara. Upaya ini tentu dapat dipahami oleh pihak pemerintah RRC.

Baca Juga:  16 Pelajar Terima Beasiswa Yamaoka

Tentu tidak elok jika, sementara ini disinyalir, Dubes RRC di Jakarta melalui pernyataan-pernyataannya di media seolah “mengancam” jika pemerintah RI juga berani menutup akses penerbangan dan akses pelabuhan dari dan ke RRC, maka akan sangat merugikan pihak Indonesia. Pernyataan ini tentu tidak perlu terlalu ditanggapi, mengingat suatu kewajaran belaka jika Duta besar bertindak untuk kepentingan negaranya. Pemerintah RI tentu secara akal sehat lebih mementingkan kesehatan dan kesejahteraan warganegaranya, alih-alih memikirkan kepentingan negara lain
Tentu saja ada cost, atau lebih jauh lagi potential loss yang berdampak bagi perekonomian kita, sebagaimana itu juga tentu disadari oleh pemerintah negara-negara lain di atas tadi, jika menutup arus orang dan barang dari RRC, akibat wabah virus NCoV ini. Sebagaimana tentu juga harus diprediksi seksama, berapa expenses yang harus dikeluarkan pemerintah, jika akibat mengabaikan pencegahan penularan wabah ini secara optimal, berdampak negatif dan luas pada kesehatan masyarakat di negeri kita. Pemerintah kita tentunya juga dapat mengamati, jika wabah virus di Wuhan dan beberapa kota lain ini bagi pemerintah RRC “hanya” sekedar masalah di bidang kesehatan, tidak berefek pada bidang-bidang perekonomian dalam negeri dan lain-lain, tentu pemerintahan Xi Jinping tidak akan bertindak seheboh ini, seperti terlihat di media-media. Sebagaimana Sumber Daya Manusia adalah subjek dalam lingkaran faktor produksi di perindustrian, perdagangan dan perekonomian, maka jika kesehatannya memburuk secara signifikan dan massif/ dalam jumlah yang besar, tentu dampak kerugiannyanya tidak bisa disepelekan.

Blessing in disguise, wabah virus ini semoga membawa hikmak bagi kita semua. Sebelum semuanya terlambat, pilihan bijak dan mendasar harus diambil segera saat ini juga oleh pemerintah, dalam meminimalisir dampak buruk dari wabah ini bagi kepentingan bangsa kita. Prioritas tertinggi tentulah kepentingan dalam negeri dengan menjaga kesehatan seluruh warga negara, sebagaimana diamanahkan oleh konstitusi kita, dengan mengedepankan prinsip: Pencegahan jauh lebih baik daripada Pengobatan. Termasuk terhadap the china’s corona effect ini juga. Wallahua’lam.

*) Penulis adalah Pemerhati masalah sosial ekomomi, Mantan bankir syariah,Akuntan dan Pegiat dakwah

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan