Berlanjut, Demonstrasi Tolak UU Cipta Kerja Anarkis

  • Bagikan
IMG 20201008 WA0000
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Demonstrasi mahasiswa dan buruh yang menolak UU Ciptaker di berbagai kota di Indonesia yang berlangsung sejak Selasa, 6 Oktober 2929 berlanjut.

Hingga Kamis, Oktober 2020, demonstrasi masih berlangsung. Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi unjuk rasa menolak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja di dekat Istana Negara,

DomaiNesia

Di Jakarta, khususnya kawasan Harmoni Jakarta Pusat terjadi bentrok dgn polisi. Mereka .

Ribuan mahasiswa dan buruh juga bentrok dengan polisi di kawasan Jalan Daan Mogot Jakarta Barat.
“Kita geruduk istana Presiden yang dibangun dengan perjuangan rakyat,” ujar salah seorang orator.

Konsentrasinya mahasiswa ini membuat Polres Metro Jakarta Pusat menyarankan pengguna jalan agar tidak melalui Simpang Harmoni.

Kerumunan mahasiswa juga tampak di kawasan patung kuda, Jakarta Pusat.

Meskipun mengetahui Presiden Jokowi tidak berada di Istana Negara karena melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah dan Kalimantan, mahasiswa tetap ingin masuk Istana.

Baca Juga:  Soal Jual Saham Bir, Pemprov DKI Kembali Surati DPRD DKI

Mereka ingin bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara, atau siapapun.

Mahasiswa akan menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang membatalkan UU Cipta Kerja.

“Secara narasi, kita sepakat menolak dan mengusahakan alternatif lain seperti JR (judicial review) dan mendesak Presiden untuk mengeluarkan perppu,” kata Koordinator Media Aliansi BEM SI, Andi Khiyarullah seperti dilansir dari situs KompasTV Kamis, 8 Oktober 2020.

Andi mengatakan, aksi kali ini diikuti oleh 5.000 mahasiswa yang berasal dari 300 kampus.

Para peserta aksi, lanjutnya, juga tidak hanya berasal dari kawasan Jabodetabek, tetapi daerah lainnya seperti Sumatera hingga Sulawesi.

Selain Aksi Nasional, aksi serentak juga di wilayah masing-masing.

Guna mengendalikan situasi, terutama masuknya penyelinap, polisi menempati beberapa titik.

Baca Juga:  Migrasi Sistem Manajemen k3 Berskala Internasional, Trakindo Raih Sertifikat Akreditasi ISO 45001:2018

Situasi tidak kondusif juga terjadi di Surabaya.Hingga Kamis, 8 Oktober 2020, terjadi ketegangan antara massa dan polisi.

Massa merangsek.dan.mencoba masuk.ke Gedung Grahadi, Surabaya.

Demonstrasi ini awalnya damai, namun makin sore suasana panas. Massa melempari petugas dengan batu, botol minum dan polisi kemudian membalas dengan melempar gas air mata.

Sehari sebelumnya, kericuhan terjadi saat beberapa orang berupaya melakukan unjuk rasa tolak pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja di area sekitar kompleks parlemen DPR berujung bentrok, Rabu, 7 Oktober 2020 sore.
Bentrok terjadi antara massa demo dan aparat pengamanan di beberapa titik ruas jalan dekat DPR seperti Palmaerah hingga Slipi. Kericuhan mengakibatkan ruas jalan di Palmerah dan Gatot Subroto macet.

Dalam bentrok tersebut, satu mobil tahanan di yang tengah melewati jalan Pejompongan Raya, Benhil, Jakarta Pusat, dirusak massa. Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 17.00 WIB.

Baca Juga:  Keren, Anies Baswedan Jadi Wakil Ketua Dewan Pengarah C40 Cities

Pecahan kaca mobil dan batu – batu yang masih berserakan di jalan sehingga menyulitkan kendaraan dan menghambat arus lalu lintas.

Sebuah mobil rusak dihancurkan massa. Di Kendari, sebuah helikopter terbang dengan ketinggian rendah untuk menghalau mahasiswa Universitas Halue Ohalo. Tindakan polisi ini dipertanyakan DPR kepada Kapolri Idham Azis. Kapolri mengakui tidak asa SOP menggunakan helikopter untuk mengamankan demonstrasi.

Kasus pilot tersebut diserahkan ke Propam Polda Sulteng.

Demonstrasi massa viral di berbagai medsos. Demo di Surabaya, Semarang, Bekasi, Sukabumi, Lampung, Garut, Palembang, Jambi, Medan, Bandung, Serang, Bogor, dan lain – lain beredar di berbagai medsos dan mendapat banyak reaksi netizen. DBS/ S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan