Para Tokoh Kecam Perlakuan Polru Terhadap Tokoh KAMI

  • Bagikan
IMG 20201016 WA0001
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Sejumlah tokoh mengecam dan menyesalkan perlakuan Polri terhadap tokoh
Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dalam konferensi pers kemarin.

Dalam konferensi pers tersebut Tokoh KAMI Syahganda dan Jumhur Hidayat ditampilkan dengan mengenakan baju tahanan dan diborgol. Mereka diperlakukan seperti penjahat kriminal

DomaiNesia

Keduanya ditangkap karena dianggap menyebarkan informasi provokatif dan haox di media sosial terkait UU Cipta Kerja (Ciptaker).

Mantan Ketua Mahkamah Ko nstitusi (MK), Prof Jimly Asshiddiqie geram melihat perlakukan rezim tersebut.

“Ditahan saja tidak pantas apalagi diborgol untuk kepentingan disiarluaskan,” tegas Jimly Asshiddiqie melalui akun Twitter pribadinya, @JimlyAs, Jumat , 16 Oktober 2020.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu menyebut aparat kepolisian merupakan pengayom masyarakat. Seharusnya aparat lebih bijaksana dalam menegakkan keadilan.

“”Sebagai pengayom warga, kata anggota DPD RI ini, polisi harusnya lebih bijaksana dalam menegakkan keadilan dan kebenaran.

Baca Juga:  Jokowi: Sudah Banyak Usulan Nama Menteri

“Carilah orang jahat, bukan orang salah atau yang sekedar “salah,” kata jimly

Anggota DPR RI, Fadli Zon menganggap Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat merupakan tahanan politik.

Rezim ini dianggap lebih kejam dari Belanda dalam memperlakukan tahanan politik. Sebab, para tahanan politik diperlakukan seperti penjahat kriminal.

“Dulu kolonialis Belanda jauh lebih sopan dan manusiawi memperlakukan tahanan politik,” kata Fadli Zon sebagaimana dilansir Dihindari.id, Jumat, 16 Oktober 2020

Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra itu menyebut satu persatu tahanan politik yang pernah dipenjara pada masa penjajahan Belanda di tanah air.

“Lihat Bung Karno di Ende, Bengkulu n Bangka. Bung Hatta n Syahrir memang lebih berat di Digul. Di Bandanaitra lebih longgar. Merka masih diperlakukan manusiawi bahkan diberi gaji bulanan,” kata Fadli Zon

Sementara situs Direktur Indonesia Future Studies Gde Siriana Yusuf (INFUS) mengharapkan pemerintah memperlakukan para aktivis KAMI tersebut dengan baik.

Baca Juga:  PB HMI- PB HMI MPO Tegaskan Tidak Terkait Demo Terhadap Anies

“Aktivis politik diperlakukan bak kriminal dengan koruptor dengan tangan diborgol. Bukan seperti ini cara menghadapi perbedaan pendapat,” tegas Gde Siriana Yusuf..

Mantan menteri era Abdurrachman Wahid (Gus Dur) dan Joko Widodo, Rizal Ramli, mengatakan jika tujuan memborgol para aktivis untuk memberikan efek jera, itu telah gagal.

Menurut dia yang terjadi justru sebaliknya, menjatuhkan nama baik kepolisian.

“Kapolri, Mas Idham Azis mungkin maksudnya memborgol Jumhur, Syahganda dan kawan-kawan supaya ada efek jera. Tetapi itu tidak akan efektif dan merusak image Polri, ternyata hanya jadi alat kekuasaan — it’s to far off-side ! Mereka bukan terorist atau koruptor,” kata Rizal Ramli.

Melalui media sosial, Rizal Ramli yang selama ini getol mengkritik kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi, mengingatkan tentang cita-cita kepolisian setelah dwi fungsi ABRI dihapuskan. Ketika itu, pemerintah menginginkan Polri menjadi lembaga yang benar-benar mengayomi masyarakat.

Baca Juga:  Empat Wanita Raih L’Oréal-UNESCO For Women in Science

“Ketika pemerintahan Gus Dur, Menko RR dan Menko SBY, memisahkan Polri dari TNI, kami membayangkan Polri akan dicintai karena jadi pengayom rakyat. Hari-hari ini kami tidak menyangka Polri jadi multi-fungsi.. too much, pake borgol-borgol aktivis segala. Nora aa,” kata Rizal Ramli.

Politikus Partai Demokrat Andi Arief mengingatkan Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat ikut berkontribusi pada perjuangan reformasi.

“Saya sedih dan menangis melihat Syahganda dan Jumhur Hidayat dan kawan-kawan dipertontonkan ke muka umum seperti teroris,” katanya.
Apalagi keduanya memiliki jasa dalam perjuangan reformasi.

“UU ITE tidak tepat diperlakukan begitu, bahkan untuk kasusnya juga tidak tepat disangkakan,” kata Andi Arief. DBS/ S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan