Seruan Boikot Produk Prancis Terus Berlangsung

  • Bagikan
Screenshot 20201028 134156 1
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Sejak beberapa hari lalu, hingga kini, gelombang seruan untuk memboikot produk – produk Prancis terus bergulir.

Tak hanya kawasan Arab, dan Turki, di Tanah Air pun ajakan demikian juga meluas. Hampir seluruh medsos berisi ajakan diboikot produk Prancis.
Tak saja seruan, detil produk Prancis pun diekspos agar publik lebih lebih aware

DomaiNesia

Kemarahan dunia terhadap sikap Presiden Prancis terkait pelecehan Nabi Muhammad SAW melalui kartun meluas.

Sebagaimana diketahui, Presiden Perancis, Emmanuel Macron, menyebut gambar Nabi Muhammad sebagai kartun bukan hal yang salah.

Macron menyatakan demikian pekan lalu sebagai penghormatan kepada guru sekolah menengah yang dibunuh.

Guru bernama Samuel Paty itu dipenggal kepalanya awal Oktober ini dalam serangan di wilayah pinggiran Paris

Paty dihabisi setelah dia menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas dan menganggapnya sebagai kebebasan berekspresi.

Presiden Macron mengatakan Prancis tidak akan ‘menyerah’ dengan kasus kartun Nabi Muhammad dan mengaku akan menindak Islamisme ekstrim di negaranya.

Baca Juga:  Mola TV Tayangkan Eksklusif Piala Eropa 2020

Hal ini memicu demonstrasi dan boikot produk Prancis di sejumlah negara mayoritas Muslim.

Presiden Prancis Emmanuel Macron bersama Menteri Pendidikan Prancis Jean-Michel Blanquer, berbicara di depan sebuah sekolah menengah di Conflans Saint-Honorine, 30 km barat laut Paris, pada 16 Oktober 2020, setelah seorang guru dipenggal oleh penyerang karena membawa karikatur Nabi

“Saya menyerukan kepada orang-orang, jangan mendekati barang-barang Prancis, jangan membelinya,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Senin (26/10/2020) saat berpidato di Ankara.

“Para pemimpin Eropa harus mengatakan ‘berhenti’ untuk Macron dan kampanye kebenciannya,” tambahnya.

Kampanye boikot juga sedang memanas di Yordania. Sejumlah toko grosir membuat tulisan pernyataan mereka tidak menjual produk asal Prancis.

Berbagai toko di Qatar melakukan hal yang sama, salah satunya jaringan supermarket Al Meera yang punya lebih dari 50 cabang di negara tersebut.

Dari kalangan kampus, Universitas Qatar juga mengatakan mereka menunda Pekan Budaya Prancis tanpa batas waktu.

Baca Juga:  Amnesty International : Bubarkan FPI Gerus Kebebasan Sipil Indonesia

Kasus pembunuhan Paty telah menghidupkan kembali ketegangan seputar sekularisme, Islamisme, dan Islamofobia di Prancis.

Bahkan akibat pernyataan kontroversial Macron, hubungan diplomatik dan ekonomi terhadap negara-negara Arab mungkin akan turut terganggu juga.

Kementerian di Prancis mengatakan reaksi pemboikotan mendistorsi pernyataan Presiden Macron untuk tujuan politik.

Pihaknya menyatakan posisi yang dipertahankan oleh Prancis (adalah) mendukung kebebasan hati nurani, kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan penolakan panggilan untuk kebencian.”

Pernyataan juga menjelaskan soal kalimat Macron terkait memerangi Islamisme radikal.

“Kebijakan Macron ditujukan untuk) memerangi Islamisme radikal dan melakukannya dengan Muslim Prancis, yang merupakan bagian integral dari masyarakat, sejarah, dan Republik Prancis,” bunyi pernyataan itu

“Kami tidak akan menyerah,” cuit Macron Minggu lalu.

Pihaknya menghormati semua perbedaan dalam semangat perdamaian. Pihaknya tidak menerima ujaran kebencian dan mempertahankan perdebatan yang masuk akal. “Kami akan selalu berpihak pada martabat manusia dan nilai-nilai universal,” tambahnya.

Screenshot 20201028 134243 1

Kematian Paty memicu tindakan keras pada keamanan di Prancis, di mana para pejabat melakukan ujaran kebencian di media sosial dan organisasi yang kemungkinan terkait dengan Islamisme.

Baca Juga:  Pengacara HRS Ditahan, Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) Protes Keras

Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya yang bersumber dari majalah satir Charlie Hebdo, dan menilainya sebagai tanggapan atas serangan teror pada media ini 2015 silam yang menewaskan 12 orang

Macron dengan keras membela hak untuk menampilkan kartun semacam itu di Prancis pada acara peringatan Paty.5Prancis akan terus “debat yang penuh kasih, argumen yang masuk akal, kami akan menyukai sains, dan kontroversi-kontroversi itu,” kata orang nomor satu di Prancis itu.

Kami tidak akan melepaskan karikatur, gambar, bahkan jika orang lain mundur,” tambahnya.

Yordania, Pakistan, Mesir, dan Iran termasuk di antara negara-negara Islam yang mengutuk Prancis atas pembelaan penerbitan karikatur tersebut dan tanggapan Macron.

“Kami mengutuk publikasi kartun satir yang menggambarkan Nabi Muhammad,” kata Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Al-Safadi. DBS/ AFP/ S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan