Dua Tersangka Kasus Ekspor Benur Kementerian Kelautan dan Perikanan Dinyatakan Buron

  • Bagikan
IMG 20201126 WA0047
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS—Dua diantara 7 tersangka dalam kasus korupsi ekspor benur Kementerian Kelutan dan Perikanan (KKP) dinyatakan buron oleh KPK. Mereka adalah Sespri Menteri KKP Amiril Mukminin (AM) dan staf khusus Menteri KKP Andreau Pribadi Misata (APM).
“KPK mengimbau kepada dua tersangka yaitu APM dan AM untuk dapat segera menyerahkan diri ke KPK,” kata Wakil Ketua KPK, Nawawi Pomolango dalam konferensi pers, Jakarta Selatan, Kamis 26 November 2020, dini hari tadi.
Andreau Pribadi Misata dikenal sebagai staf khusus Menteri KKP, Edhy Prabowo, sekaligus Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligince). Dia ditunjuk sebagai Ketua Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 53 Tahun 2020.

Info yang dikumpulkan menyebutkan Andreau memegang peranan penting dalam ekspor benih lobster, termasuk penunjukkan perusahaan jasa kargo.
Andreau beberapa kali mengatur pertemuan dengan para eksportir lobster, termasuk dalam pembentukan Perkumpulan Pengusaha Lobster Indonesia (Pelobi).
Andreau juga berperan dalam penunjukan PT Aero Citra Kargo sebagai penyedia jasa tunggal lobster ke luar negeri melalui Bandara Soekarno-Hatta.

DomaiNesia

Andreau sempat menjadi calon anggota DPR dari PDIP dalam Pemilu 2019, namun gagal terpilih. Dia masuk sebagai Staf Khusus Menteri KKP Edhy Prabowo pada Februari-Maret 2020.

Selain menjadi calon anggota legislatif, Andreau menjadi anggota tim pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Hal ini diketahui dari akun instagramnya. Dalam akun tersebut, Andreau memasang foto selfie dia bersama Presiden Joko Widodo dan ketua tim kampanye saat itu, Erick Thohir. Tampak pula fotonya bersama politiukus PDIP Aria Bima.

Baca Juga:  Wapres -Waketum MUI Beda Pendapat tentang SKB 3 Menteri soal Seragam Siswa

Sebagaimana diketahui, dalam kasus ini KPK menetapkan 7 tersangka yakni Menteri KKP Edhy Prabowo, Andreau; staf khusus Menteri KKP, Safri; Pengurus PT Aero Citra Kargo (ACK), Siswadi; staf istri Edhy, Ainul Faqih; Amiril Mukminin; dan Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP), Suharjito.. Edhy Prabowo diduga menerima sejumlah uang yang ditampung dalam rekening mencapai Rp9,6 miliar dari sejumlah perusahaan ekspor lobster.

Deputi Penindakan KPK Karyoto menyatakan pihaknya mengeluarkan surat perintah dimulainya penyelidikan (Sprinlidik) kasus dugaan korupsi penetapan izin ekspor benih lobster sejak Agustus 2020 lalu.”Kami mulai di bulan Agustus. Tentunya bulan Agustus ini bukan waktu yang singkat,” kata Karyoto.

Pihaknya langsung mengumpulkan sejumlah informasi termasuk melalui teknologi dan perbankan guna mencari tahu kebenaran atas dugaan tindak pidana yang dimaksud., hingga dilakukan OTT di Bandara Soekarno Hatta, Rabu, 25 November 2020 dini hari.
“Orang-orang yang ditetapkan sebagai tersangka jelas perbuatannya, tinggal pembuktian legalitas. Alat bukti juga sudah cukup banyak baik yang dikloning, fisik dan ada alat yang sangat vital yaitu kartu ATM,” kata Karyoto .

Kartu ATM atas nama Ainul Faqih yang merupakan staf istri Iis Rosyati Dewi tersebut adalah ATM dari rekening bank BNI yang diduga sebagai penampung dana dari beberapa pihak yang sedang dipergunakan bagi kepentingan Edhy untuk pembelian sejumlah barang mewah di luar wilayah Indonesia.

Baca Juga:  Ustad Tengku Zulkarnain Meninggal Dunia

“Dari sisi perbankan akan ketahuan kalau dilihat dari transaksinya kartu ATM. Kita dapat melihat dan akan dikembangakan tapi dari profile awal sudah jelas pelaku-pelaku dalam aliran (penerimaan dana) itu sudah tergambar,” kata Karyoto.

Pada tanggal 14 Mei 2020 Edhy menerbitkan Surat Keputusan Nomor 53/KEP MEN-KP/2020 tentang Tim Uji Tuntas (Due Diligence) Perizinan Usaha Perikanan Budidaya Lobster.

Edhy menunjuk Andreau Pribadi Misata selaku staf khusus Menteri juga selaku Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas (Due Diligence) dan Safri selaku Staf Khusus Menteri untuk menjabat sebagai Wakil Ketua Pelaksana Tim Uji Tuntas. Salah satu tugas dari tim adalah memeriksa kelengkapan administrasi dokumen yang diajukan oleh calon eksportir benur.

Awal Oktober 2020, Suharjito, Direktur PT Dua Putra Perkasa (DPP) bertemu Safridi kantor KKP. . Dalam pertemuan tersebut, diketahui untuk melakukan ekspor benih lobster hanya dapat melalui forwarder PT Aeor Citra Kargo (ACK) dengan biaya angkut Rp1800/ekor yang merupakan kesepakatan antara Amiril Mukminin (Sespri menteri KKP) dengan Andreau dan Siswadi (pengurus PT ACK).

Atas kegiatan ekspor benih lobster tersebut, PT DPP diduga melakukan transfer sejumlah uang ke rekening PT ACK dengan total sebesar Rp731.573.564. Selanjutnya PT DPP atas arahan Edhy melalui Tim Uji Tuntas (Due Diligence) memperoleh penetapan kegiatan ekspor benih lobster/benur dan telah melakukan sebanyak 10 kali pengiriman menggunakan perusahaan PT. ACK.

Baca Juga:  Survei: di Masa Pandemi Konsumsi Asam-Manis Tinggi, Kunjungan ke Dokter Menurun

Berdasarkan data kepemilikan, pemegang PT ACK terdiri atas Amril Mukminin dan Ahmad Bahtiar yang diduga merupakan nominee dari Edhy Prabowo serta Yudi Surya Atmaja. Atas uang yang masuk ke rekening PT ACK yang diduga berasal dari beberapa perusahaan eksportir benih lobster tersebut, selanjutnya ditarik dan masuk ke rekening Amril Mukminin dan Ahmad Bahtiar masing-masing dengan total Rp9,8 miliar.

Pada tangga; 5 November 2020, diduga terdapat transfer dari rekening Ahmad Bahtiar ke rekening salah satu bank atas nama Ainul Fiqih sebesar Rp3,4 miliar yang diperuntukkan bagi keperluan Edhy Prabowo, Iis Rosyati Dewi, Safri, dan APM antara lainuntuk belanja barang mewah oleh Edhy Prabowo dan Iis Rosyati Dewi, serta IRW di Honolulu AS.

Belanja tersebut dilakukan pada 21 sampai dengan 23 November 2020. Sejumlah sekitar Rp750 juta diantaranya berupa jam tangan rolex, tas Tumi dan LV, baju Old Navy. Di samping itu pada Mei 2020, Edhy juga diduga telah menerima sejumlah uang sebesar 100 ribu dolar AS dari Direktur PT Dua Putra Perkasa Suharjito melalui Safri dan Amril Mukminin. Syafril dan Andreau pada sekitar Agustus 2020 juga menerima uang dengan total sebesar Rp436 juta dari Ainul Faqih. DBS/S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan