Waroeng Dhuafa Insan Cita: Bahagianya Bisa Berbagi……..

  • Bagikan
wdic4
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 WIB. Dede, Tika, Sukini sedang asyik bekerja di dapur Waroeng Dhuafa Insan Cita (WDIC) , Jalan Juanda, Depok, Jabar. Sebagian menggoreng ayam, sebagian memasukkan makanan ke dalam wadah untuk dipacking. Di dekat mereka, Sanna, sang manager juga turun tangan ikut memasak.

Mereka memang agak terburu-buru. Sebentar lagi waktu salat Jumat tiba, makanan belum semua selesai dipacking. “Biasanya sebelum salat Jumat makanan sudah kita bagikan,” ujar Sanna. Tapi hari itu, agak terlambat karena banyak orderan.

DomaiNesia

Tak menunggu hingga semuanya selesai. Sanna, bersama beberapa pengelola dan tim WDIC seperti Reslawati, Depi Sartika, Yasmawati, dan Hesma Eryani bergegas membawa makanan ke masjid yang berjarak sekitar 100 meter dari WDIC. Mulai dari tukang parkir, marbot masjid, tukang jamu yang kebetulan sedang berada di sana, abang ojek online menerima paket makanan yang terdiri atas nasi, ayam goreng, tempe goreng, sayur, dan sambal.

“Alhamdulilah….terima kasih banyak ya mbak,” ujar mbok jamu dengan warga sumringah.

Usai dari masjid, tim bergerak menuju ke beberapa titik pembagian. Wajah tim WDIC pun tak kalah sumringah. Haru nampak jelas di wajah mereka.

“Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam hari ini untuk kesekiaan kalinya kami Warung Dhuafa Insan Cita di Depok menyalurkan donasi nasi kotak kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Sanna.

Di sepanjang jalan Ir. H.Juanda, Depok, Sanna dan tim menemukan beberapa pemulung dan bahkan pasangan pemulung yang sehari-hari mengais sampah plastik di jalanan. Pernah beberapa minggu sebelumnya saat hujan mengguyur Depok pada malam harinya, keluarga yang tak beruntung karena tinggal di gerobak ini kehujanan sepanjang malam sehingga dua orang anak pasangan pemulung ini sakit demam. Suatu realita yang terjadi di masyarakat entah apakah mereka memang tidak memiliki rumah atau sementara tinggal di gerobak.

Baca Juga:  Beli Hak Siar Liga Inggris, Direktur Utama TVRI Helmi Yahya Dipecat

Perjalanan dilanjutkan ke Yayasan Yatim Duhafa di kawasan Depok II dan mengantarkan paket nasi kotak kepada anak-anak yang sedang belajar online. Di sepanjang jalan di dekat yayasan ini banyak tukang becak dan pedagang asongan yang berkumpul. Sebanyak 40 kotak yang mereka bawa tak cukup untuk dibagikan kepada mereka.

Kemudian, Sanna dan kawan-kawan berjalan pulang mengambil beberapa puluh kotak makanan lagi lalu membagikannya kepada yang berhak.

Ini adalah kegiatan rutin WDIC. Hampir setiap Jumat digelar kegiatan Jumat Berbagi. Kadang Sanna hanya berjalan bersama Mahira, putri kecilnya membawa makanan tersebut untuk dibagi-bagikan. Kadang datang para pengelola WDIC lain yang bertempat tinggal di luar Depok.

Bahkan, pernah pula Sanna dtemani kader PKK RW 16 Kecamatan Sukmajaya, Depok. Atas sarannya pula Sanna mendatangi perkampungan yg mereka sebut Bojong Miskin , sebuah gang sempit yang dipenuhi para pemulung, buruh cuci, tukang becak, dan buruh lepas harian lainnya.

“Sungguh pemandangan yang mengharukan. Jauh sebelum pandemi COVID-19, mereka sudah berjuang melawan kemiskinan dan kondisi berbulan-bulan. Pembatasan sosial berskala besar memaksa mereka lebih keras lagi mengais rezeki. Setidaknya hari Jumat ini satu atau dua kotak nasi mampu membuat mereka tersenyum,” ujar Sanna dengan mata berkaca-kaca.

wdic2

Jumlah yang dibagikan setiap hari Jumat ini memang tak banyak, tergantung bantuan donatur yang umumnya para pengelola yang tergabung dalam WAG Waroeng Dhuafa. Sesekali ada juga pihak luar yang turur memberikan donasinya. Ini sangat menggembirakan.

Jumat berbagi hanyalah program tambahan. Program utama WDIC adalah menjual makanan murah untuk kaum dhuafa, khususnya yang berada di sekitar lokasi WDIC. Pendirian WDIC memang didedikasikan untuk kaum dhuafa.

Baca Juga:  Menag Buka Pospenas ke VIII

Sekitar setahun lalu, sejumlah alumni HMI Cabang Palembang yang berdomisili di Jabodetabek mengadakan petemuan dengan Hendri Zainuddin, yang saat itu merupakan anggota DPD RI asal Sumsel.

Dari hasil pertemuan ini, mereka sepakat mendirikan WDIC. Atas berbagai pertimbangan, lokasi dipilih di Depok. Salah seorang motaris muslimah, alumni HMI Cabang Palembang yang baik hati mempersilakan kantornya yang berada di Jalan Juanda dijadikan lokasi Waroeng Dhuafa. Tiga pegawai dibawah komando manajer Sanna memulai operasional WDIC.

Beberapa anggota WAG WDIC seperti Hendri Zainuddin (kini Ketua KONI Sumsel/Manajer Sriwijaya FC, sang notaris, Dr Rini Purnama, dan peneliti Puslitbang Kemenag Reslawati termasuk tim yang setia memberikan dana rutin setiap bulan. Demikian pula dengan para anggota WAG Waroeng Dhuafa lainnya. Mereka tak hanya membantu dana, juga bantuan bahan makanan seperti beras, dan pastinya dukungan moril.

WDIC hanya beroperasi antara jam 11.00 – 14.00 agar tidak mengganggu bisnis sejenis di kawasan tersebut. Sesuai dengan misinya, makanan yang dijual di sini sangat murah, hanya Rp7.000 per porsi lengkap. Harga ini tentu saja jauh di atas modal yang berkisar antara Rp10000 – Rp12.000 per porsi.

Pernah pengelola berpikir untuk menaikkan harga menjadi Rp8.000 per porsi, namun kemudian mereka sepakat membatalkannya. Kekurangan dana akan ditalangi bersama-sama. Yang penting banyak warga yang dapat menikmati sajian di waroeng ini.

Awal kehadirannya mengundang banyak kisah-kisah mengharukan.

“Ada seorang buruh cuci dengan beberapa anak. Dia bilang sejak ada waroeng inilah mereka bisa makan ayam. Ya Allah…gimana gak haruu,” cerita Sanna.

Baca Juga:  Karyawan Perumda Pasar Jaya Kunjungi Cugenang Gifted School

Jangan heran bila pembelipun mulai berdatangan. Bahkan, kadang jumlah pembeli lebih banyak dari stok jualan. “Sedih banget, suatu hari ada seorang ibu tua miskin, saat dia datang, makanan sudah habis,” kata Sanna.

Tak melulu dagangan habis. Kadang, setelah melewati jam operasional masih tersisia beberapa porsi makanan. Porsi sisa ini kemudian dipacking dan dibagi kepada warga-warga yang berhak seperti tukang becak.

wdic3

Ada kisah yang juga cukup mengharukan. Suatu hari Sanna memberi nasi kotak kepada seorang abang becak yang sedang beristirahat menunggu penumpang. Wajahnya tampak lelah. Ketika diberi makanan, dia sangat berbahagia. “Terima kasih mbak, ini buat saya buka puasa nanti sore,” ujarnya.

Oh God….Sanna hampir tercekat, menahan haru…..Ternyata abang becak itu sedang berpuasa…..Di sela-sela menarik becak yang melelahkan, bapak tua itu masih tetap menjaga ibadahnya.
“Banyak memang hal-hal tak terduga yang kami temukan, dan itu sangat memberi kebahagiaan, “ ujar Sanna.

Tak hanya menjual makanan murah, WDIC menggelar program Jumat Berbagi setiap hari Jumat. Tak hanya penerima, pemberipun juga sama bahagianya. Ke depan pengelola WDIC berharap makin banyak pihak yang dibantu. Karena itu keberadaan donator menjadi sangat penting, tak hanya dari kalangan internal WDIC, juga dari siapapun yang ingin membelanjakan hartanya dijalan Allah melalui WDIC.

Sungguh bershodaqoh, menolong memberi makan orang miskin baik diminta atau diminta sangatlah besar manfaatnya. “Semoga Kita semua dimudahkan Allah untuk bershodaqoh terutama memberi makan orang miskin. WDIC siap menyalurkan shodaqoh Anda. Insya Allah,” harap Sanna, muslimah cantik yang sigap dan tak jarang harus naik motor di tengah matahari untuk membagikan makanan bersama anaknya, Mahira. NURHASANAH RUQIYYAH SRI SUDIRMAN/S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan