Polisi Bunuh Laskar FPI, Hapus CCTV, Komnas HAM Minta Kasus Dibawa ke Pengadilan

  • Bagikan
IMG 20210108 WA0006
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS-Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan polisi mematikan dan menghapuskan rekaman CCTV pembunuhan anggota Laskar FPI di Jalan Tol Cikampek Km 50. Polisi terbukti membunuh 4 Laskar FPI, dan meminta kasus ini dibawa ke pengadilan.

“Polisi mengakui ambil CCTV dan kami tanya mereka ambil legal atau ilegal. Jawaban mereka CCTV diambil legal maka kami tunggu proses di pengadilan,” kata Choirul dalam jumpa pers hasil investigasi Komnas HAM atas kasus matinya 6 Laskar FPI oleh aparat kepolisian November 2020 lalu di Kantor Komnas HAM, Jumat, 8 Januari 2021.

DomaiNesia

Penyelidikan ini dilakukan mulai 7 Desember 2020 hingga 31 Desember 2020.

Selain adanya rilis tertulis acara ini juga diliput langsung sejumlah televisi swasta dan bisa disaksikan para pemirsa.

Menurut Choirul Anam, menghapus rekaman CCTV di rest area KM 50 Jalan Tol Jakarta – Cikampek setelah momen penangkapan kepada enam anggota FPI, polisi juga meminta warga menghapus rekaman ponsel di lokasi kejadian.

Polisi beralasan peristiwa itu terkait narkoba dan terorisme. Polisi memeriksa ponsel dan memerintahkan menghapus rekaman ponsel masyarakat di sana.

Sejumlah saksi juga melihat adanya pembersihan darah di KM 50.

Menurut warga sekitar yang menjadi saksi kejadian tersebut pihak polisi terlihat mengeluarkan dua anggota FPI yang tewas dari dalam sebuah mobil.

Baca Juga:  Barang Bukti Djoko Tjandra Rp546 Miliar Sudah Disita Sejak tahun 2009

Anggota FPI itu, kata Choirul diduga tewas karena baku tembak dengan polisi saat berada di dalam mobil.

“Satu duduk di mobil dengan keadaan sudah tewas dan satu diturunkan ke jalan dengan satu luka tembak. Selain itu terlihat darah di jalan di depan salah satu warung depan rest area KM 50,”katanya.

Empat anggota FPI lain yang masih hidup diminta berjalan jongkok dan tiarap oleh aparat kepolisian, lalu diminta masuk ke dalam sebuah mobil lewat pintu samping dan belakang.

Selain itu sejumlah saksi juga melihat adanya pembersihan darah di KM 50.

Anggota polisi juga melakukan pengambilan CCTV di salah satu warung dan memerintahkan hapus dan memeriksa handphone masyrakat disana.

Komnas HAM meminta kasus tewasnya empat anggota FPI ini untuk dibawa ke pengadilan karena diduga telah menyalahi aturan yang berlaku dalam tindakan tegas terukur.

Di salah satu bagian, Choirul Anam mmngatakan pihaknya jmemeriksa transkip percakapan digital yang terkait dengan insiden tersebut.

“Voice note dan transkip percakapan kami ambil dari FPI dan Polisi. Lalu kami periksa manual dan cocokan klarifikasi kepada saksi yang masih hidup,”kata terang Choirul Anam

Hasilnya, Komnas HAM mendapatkan skema jalur perjalanan peristiwa dari Sentul sampai gerbang tol Karawang Timur sampai masuk pintu tol Karawang Barat.

Baca Juga:  Suap Jabatan, KPK Panggil Staf Ahli Menag

Kendaraan FPI dan Polisi yang terlibat sempat berputar-putar di kawasan Karawang, Jawa Barat.

Dari Sentul, delapan kendaraan FPI berjalan beriringan dengan dibuntuti oleh sejumlah mobil anggota polisi.

Enam mobil rombongan FPI maju terlebih dahulu sementara dua mobil lainnya ditinggal. Tujuannya dua mobil itu untuk mengecoh mobil polisi yang membubuti rombongan Muhammad Rizieq Shibab.

Kedua mobil FPI itu dapat membuat jarak dengan mobil anggota polisi yang membuntuti.

Choirul menyebut dua mobil itu punya kesempatan kabur dan menjauh.

“Tapi dua mobil ambil tindakan menunggu akhirnya mereka bertemu lagi dengan mobil petugas,” ungkap Choirul.

Kedua mobil rombongan FPI itu diisi masing-masing enam Laskar.

Setelah keluar Tol Karawang Barat dan hendak masuk Tol Karawang Timur mobil FPI dan polisi saling serempet dan saling seruduk.

Bahkan mobil-mobil tersebut saling serang dengan kontak tembak. Kontak tembak dimulai dari sepanjang jalan internasional barat yang diduga terjadi sampai KM 49 dan berakhir di KM 50 tol Jakarta- Cikampek.

Komnas HAM mencatat ada tiga eskalasi dalam proses saling kejar-kejaran mobil anggota Polisi dan FPI itu.

Pertama, eskalasi rendah dari Sentul sampai gerbang keluar pintu Tol Karawang Timur.

Kedua, eskalasi sedang dari gerbang keluar Tol Karawang Timur sampai menuju flyover Hotel Swiss-bellin Karawang.

Baca Juga:  Marina Donasikan Belasan ibu Marina Body Wash kepada PMI Surabaya

Ketiga, eskalasi tinggi mulai dari Hotel Swiss-bellin Karawang, pintu masuk Tol Karawang Barat sampai KM 49 di dalam tol.

Eskalasi rendah ditunjukkan belum adanya gesekan antara mobil FPI dan petugas dan masih dalam jarak yang jauh.

Eskalasi sedang mulai terdapat gesekan mobil dan jarak dekat, dan eskalasi tinggi mulai ada dugaan benturan mobil dan tembakan.

Pada eskalasi rendah, mobil yang ditumpangi enam laskar FPI yang tewas masih dapat kabur dari mobil polisi.

Namun mereka lebih memilih menunggu mobil polisi yang membuntuti.

Dalam rekaman CCTV di jalan tol, pihak Komnas HAM juga tidak melihat adanya insiden penyalipan mobil polisi terhadap rombongan FPI.

Hal itu berbeda dari keterangan anggota FPI yang masih hidup dan dimintai keterangannya sebagai saksi.

“Pergerakan terlihat normal meski versi FPI ada manuver pemotongan masuk ke rombongan. Versi polisi hanya maju mendekat dari jalur kiri tol untuk pastikan target pembututan berada dalam iringan mobil,”kata Choirul.

Pun di dalam rekaman CCTV tidak terlihat ada penyalipan.

Sehingga enam mobil rombongan Rizieq Shihab dalam melaju terbebas dari mobil polisi yang membuntuti. Sementara dua mobil rombongan Rizieq ditinggal oleh enam rombongan lainnya.

Kasus ini menyita perhatian publik. Berbagai pihak mengecam dan meminta kasus ini dibawa ke Mahkamah Internasional. DBS/ S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan