Pakar Penerbangan AS: Penyebab Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Bukan Karena Cacat Desain

  • Bagikan
IMG 20210112 WA0000
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Analis penerbangan di Teal Group, Richard Aboulafia, tidak yakin jatuhnya pesawat Sriwijaya Air
SJ-182 di Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu, 9 Januari 2021, akibat cacat desain.

Menurut dia, pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut adalah jenis Boeing 737-500 dan telah berusia 26 tahun, bagian dari seri ‘Classic’ 737 yang selesai diproduksi pada 1999. Hingga kini belum dapat dipastikan apa penyebab pasti kecelakaan tersebut.

DomaiNesia

“Ini bahkan bukan model sebelum Max, ini telah beroperasi selama 30 tahun sehingga tidak mungkin terjadi kesalahan desain,” katanya kepada Bloomberg, sebagaimana dilansi Bisines Insider, Minggu, 10 Januari 2021.

“Ribuan pesawat ini telah dibuat dan produksinya berakhir lebih dari 20 tahun yang lalu, jadi sesuatu akan ditemukan sekarang,” lanjutnya.

Baca Juga:  Tinggalkan Administrasi SDM Manual dengan Aplikasi HRIS Unggulan GreatDay HR

Lewat email yang dikirimkan ke Insider, Aboulafia mengatakan bahwa meskipun 26 tahun masa kerja melebihi usia pensiun yang biasa dari banyak pesawat, bukan hal yang aneh bagi pesawat yang sudah tua untuk terbang.

“Dan akan sangat aman dengan asumsi prosedur pemeliharaan yang benar diterapkan dan ditegakkan oleh regulator lokal,” tulisnya.

Jika merunut waktu ke belakang, pada Oktober 2018 dan Maret 2019, dua pesawat model Boeing 737 Max pernah jatuh dan menewaskan total 364 orang. Sejak saat itu pesawat itu kemudian dilarang untuk mengangkasa, sementara regulator dan Boeing bekerja untuk memperbaiki apa yang tampaknya menjadi cacat desain mendasar pada model tersebut.

Baca Juga:  Apresiasi Melewati Satu Tahun Masa Pandemi, Cadbury Luncurkan Kemasan Spesial “Terima Kasih”

Pada akhir tahun 2020, setelah penyelidikan intensif, Administrasi Penerbangan Federal akhirnya mengizinkan 737 Max terbang lagi.

Kecelakaan pada Sabtu terjadi di tengah beberapa tahun yang sulit bagi Boeing.

Minggu ini, Boeing setuju untuk membayar denda pidana 2,5 miliar dolar AS untuk menyelesaikan tuduhan konspirasi penipuan terkait dengan skandal 737 Max-nya.

CEO Boeing David Calhoun mengatakan resolusi itu adalah pilihan yang tepat bagi perusahaan.

“Resolusi ini merupakan pengingat serius bagi kita semua betapa pentingnya kewajiban transparansi kita kepada regulator, dan konsekuensi yang dapat dihadapi perusahaan kita jika ada di antara kita yang tidak memenuhi harapan tersebut,” ungkapnya..

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan