Gugatan Praperadilan Keluarga Laskar FPI yang Tewas Ditolak

  • Bagikan
sidang lasykar FPI Suci
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak seluruhnya gugatan praperadilan yang diajukan keluarga salah satu salah satu Laskar FPI yang tewas ditembak dalam peristiwa KM 50 Tol Jakarta-Cikampek, M Suci Khadavi Putra.

“Mengadili, menolak permohonan praperadilan pemohon seluruhnya,” ujar hakim tunggal Ahmad Suhel, saat membacakan putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa,9 Feruari 2021.

DomaiNesia

Gugatan keluarga M Suci yang ditolak adalah gugatan permohonan praperadilan keluarga M Suci terkait barang pribadi milik Khadavi yang disita polisi. Kedua, permohonan terkait penangkapan M Suci yang dinilai tidak sah.
Sidang dua gugatan ini dilakukan secara terpisah dengan hakim tunggal masing-masing Akhmad Suhel dan Siti Hamidah.

Terkait permohonan tentang penangkapan M Suci, hakim menilai penangkapan yang dilakukan polisi sudah sah, dan bukan operasi tangkap tangan karena ada surat penyidikannya.

Baca Juga:  ASUS Segera Rilis Produk Gaming Baru

“Menimbang bahwa tindakan termohon satu terkait penangkapan M Suci Khadavi bukan tangkap tangan, maka permohonan pemohon ditolak. Menimbang karena ditolak, maka permohonan pemohon yang lain harus dikesampingkan,” kata hakim Akhmad Suhel.

Terkait permohonan penyitaan barang M Suci, Hakim menilai penyitaan yang dilakukan polisi telah sah secara hukum. Polisi berhak menyita barang M Suci untuk penyidikan dan penuntutan lebih lanjut.

“Menimbang bahwa barang bukti penyitaan barang M Suci Khdavi telah disetujui PN Jaksel, oleh karenanya barang bukti termohon telah sesuai dengan KUHAP. Oleh karenanya sah menurut hukum,” kata hakim tunggal Siti Hamidah.

Karena penyitaan termohon dinyatakan sah, kata Siti, maka pihak termohon berwewenang mengambil alih dalam penuntutan penyidikan. Oleh karena itu permohonan pemohon tidak beralasan menurut hukum.

Keluarga M Suci mengajukan dua permohonan. Permohonan praperadilan keluarga M Suci terdaftar dengan nomor registrasi 154/Pid.Pra/2020/PN.JKT.SEL pada 28 Desember 2020. Sebagai termohon dalam gugatan ini adalah NKRI cq Pemerintah Negara RI cq Kepala Kepolisian RI cq Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI.

Baca Juga:  Aktivis: Tidak Pas Jika Pilpres Dianggap Jihad Fi Sabilillah, Itu Hanya Pemilihan Rutin Biasa.

Sedangkan untuk gugatan kedua, mengantongi nomor registrasi 158/Pid.Pra/2020/PN.JKT.SEL tertanggal 30 Desember 2020. Termohon dalam gugatan ini adalah NKRI cq Pemerintah Negara RI cq Kepala Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya.

Seusai persidangan sebelumnya, kuasa hukum tpenggugat, Kurniawan, mengatakan khusus terkait penyitaan, pihak termohon diduga melanggar keputusan Mahkamah Konstitusi.
“Yang kita sampaikan bahwa pihak termohon Bareskrim melanggar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3 Tahun 2013. Di mana dalam putusan MK itu mengartikan kata segara itu hanya tujuh hari, sementara untuk penyitaan barang-barang ini sudah lebih dari satu bulan. Jadi, kalau kami optimis kalau merujuk pada putusan MK itu, penyitaan harusnya tidak sah karena tidak memenuhi syarat kata segara tadi,” ujar Kurniawan seusai persidangan.

Baca Juga:  AFC: GBK Nominasi Salah Satu Stadion Termegah di Asia Tenggara

Selain itu, ia menjelaskan, kini Khadavi sudah meninggal dunia. Untuk itu, menurutnya, barang milik Khadavi seharusnya dikembalikan.

“Harapan kita, kalau penyitaan jelas itu dinyatakan tidak sah, kemudian barang-barang pribadi milik Khadavi itu harus dikembalikan. Toh orangnya sudah tidak ada, perkaranya tidak akan mungkin lanjut, penuntutnya pasti dihentikan,” tuturnya.
Sejumlah barang yang disita antara lain adalah satu set seragam Laskar Khusus FPI; 1 unit handphone merk Oppo F11 dengan simcard nomor: 0812-8763-5543; SIM A atas nama M Suci Khadavi Putra; dan SIM C atas nama M Suci Khadavi Putra. DBS/S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan