Survei: di Masa Pandemi Konsumsi Asam-Manis Tinggi, Kunjungan ke Dokter Menurun

  • Bagikan
GSK2
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–GSK Consumer Healthcare bekerjasama dengan perusahaan riset IPSOS membagikan informasi terbaru mengenai hasil survei pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut bagi konsumen dunia termasuk Indonesia.

“Untuk Indonesia, hasilnya sangat menarik dimana di masa pandemi ternyata konsumsi asupan yang manis dan asam sangat meningkat, tapi di sisi lain kunjungan ke dokter gigi cenderung menurun.,” kata Keith Choy, Region Head, Asia Pacific, GSK Consumer Healthcare ketika merilis hasil survei, Jumat, 19 Maret lalu.

DomaiNesia

Hal lainnya yang juga terungkap adalah ternyata konsumen Indonesia masih abai terhadap perawatan gigi dan mulutnya.

Survei dilakukan kepada 4.500 partisipan yang berusia diatas 18 tahun dan berasal dari 5 Negara Eropa (Perancis, Jerman, Britania Raya, Spanyol, dan Rusia) dan 4 Negara Asia Tenggara (Indonesia, Filipina, Singapura, dan Thailand).

Untuk Indonesia, ternyata konsumen Indonesia menyadari akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut serta dampaknya bagi kesehatan mental serta tubuh. Namun hal tersebut tidak diiringi dengan upaya yang cukup dalam menjaga dan memperbaiki kesehatan gigi dan mulut

9 dari 10 konsumen di Indonesia atau setara dengan 89% percaya bahwa kesehatan gigi dan mulut yang baik bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan memiliki dampak positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang (81%).
Konsumen di Indonesia yang saat ini setidaknya memiliki satu masalah kesehatan gigi dan mulut, ternyata tidak cukup menjaga atau memperbaiki kesehatan mulut mereka. Hasil survei menunjukkan hanya 6% konsumen yang secara rutin memeriksa atau membersihkan gigi guna secara aktif menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka.

Pandemi Covid-19 dan penerapan PSBB menyebabkan perubahan perilaku berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut konsumen Indonesia

Meskipun setidaknya memiliki satu masalah gigi; kebiasaan ngemil, konsumsi kopi/teh, makanan dingin, jus kemasan, dan minuman ringan semakin meningkat di kalangan konsumen Indonesia selama masa pandemi.

Saat ini, tiga masalah kesehatan gigi yang paling banyak dialami konsumen Indonesia adalah: gigi sensitif, berlubang, dan noda kuning. Namun demikian, hanya 40% konsumen Indonesia yang mengaku semakin rutin membersihkan gigi dibanding sebelum pandemi.

Bisa dikatakan 1 dari 2 konsumen Indonesia mengurangi atau menghentikan kunjungan ke dokter gigi karena kondisi pandemi Covid-19, dan bukan karena faktor lainnya.

Baca Juga:  Unilever Luncurkan Kampanye "Setiap U Beri Kebaikan"

46% konsumen di Indonesia semakin mengurangi frekuensi kunjungan ke dokter gigi atau bahkan tidak sama sekali dibanding sebelum pandemi Covid-19.

7 dari 10 konsumen mengaku khawatir atau cukup khawatir mengunjungi dokter gigi karena takut terpapar virus Covid-19. Bagi mereka, situasi pandemi dan kemungkinan terpapar Covid-19 menjadi alasan utama mengurangi atau berhenti mengunjungi dokter gigi.

Hampir semua konsumen Indonesia menyadari rendahnya kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental, tetapi mereka belum melakukan upaya yang maksimal untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

9 dari 10 konsumen Indonesia percaya perawatan kesehatan mulut dapat memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Ketika ditanyakan lebih lanjut, 68% responden percaya kesehatan mulut dapat mengurangi resiko pengembangan penyakit kardiovaskular, 81% meyakini ada dampak positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang, dan 55% juga percaya perawatan kesehatan mulut yang baik memiliki dampak yang positif yakni mengontrol kadar gula darah dan mencegah diabetes.

Meskipun mayoritas konsumen Indonesia telah menyadari dampak langsung dari kurangnya perawatan gigi dan mulut, survei mengungkapkan para konsumen belum secara maksimal merawat kesehatan gigi dan mulut mereka sehingga justru dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan fisik dan mental.

Dari keseluruhan konsumen di Indonesia yang saat ini setidaknya memiliki satu masalah kesehatan gigi dan mulut, hanya sebanyak 31% yang menggunakan produk kesehatan khusus untuk perawatan gigi dan mulut, dan hanya 6% konsumen yang secara aktif dan rutin memeriksa kondisi kesehatan gigi dan mulut atau membersihkan gigi ke dokter.

Padahal, 82% konsumen memiliki gigi sensitif dengan 74% diantaranya merasakan ketidaknyamanan saat makan atau minum. Hal ini juga menunjukkan bahwa konsumen Indonesia masih abai terhadap pentingnya merawat gigi dan mulut meski memiliki setidaknya satu masalah gigi dan mulut.

Sikap abai yang berkelanjutan ini dapat beresiko bagi kesehatan fisik dan mental yang sebenarnya dapat dicegah dan diatasi.

Perubahan gaya hidup konsumen selama pandemi semakin memperburuk kesehatan gigi dan mulut

Pandemi telah mengubah gaya hidup konsumen di seluruh dunia termasuk Indonesia. Penerapan PSBB membuat masyarakat menjadi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, apalagi dengan digalakkannya rutinitas work from home. Oleh karena itu, survei ini berusaha mengamati perubahan rutinitas konsumen yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut mereka.

Baca Juga:  FKS Sehat Gelar Rapid Test Massal Gratis di Soekarno Hatta

Survei menunjukkan selama pandemi ada peningkatan konsumsi makanan ringan sebanyak 28%, diikuti oleh 26% kopi/teh, 14% makanan dingin, 22% jus kemasan, dan 10% minuman ringan. Padahal, peningkatan konsumsi jenis makanan dan minuman ini berdampak buruk bagi kesehatan gigi dan mulut, terutama dapat merusak enamel gigi yang tidak dapat dipulihkan secara alami oleh tubuh manusia.

Saat ini, konsumen Indonesia memiliki masalah gigi dan mulut yang tentunya semakin diperburuk dengan mengonsumi makanan dan minuman tersebut; 82% mengalami gigi sensitif, 50% mengalami gigi berlubang, dan 39% mengalami gigi bernoda/kuning yang merupakan tiga masalah gigi yang diakui paling banyak dirasakan oleh konsumen di Indonesia.

Ketika ditanya lebih lanjut tentang bagaimana merawat gigi dan mulut mereka, solusi yang paling banyak digunakan adalah menggosok gigi secara teratur yang dijawab oleh 36% responden. Hal ini tentunya menandakan minimnya upaya atau perawatan khusus yang dilakukan dalam meningkatan kesehatan gigi dan mulut. Lebih lanjut lagi, hanya 6% dari konsumen Indonesia yang secara rutin mengunjungi dokter gigi untuk pemeriksaan.

Keith Choy, Region Head, Asia Pacific, GSK Consumer Healthcare mengatakan Pandemi Covid-19 telah mengubah cara kita beraktivitas sehari-hari dan merawat diri. “Kami senang melihat semakin banyak masyarakat yang sudah sadar tentang dampak berkepanjangan dari tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun, masih banyak yang harus kita lakukan. Perawatan gigi dan mulut dan yang baik dan teratur sangat penting untuk kesehatan dalam jangka panjang,” kata Keith.

Sebagai ahli di bidang kesehatan gigi dan mulut, kata Keith GSK Consumer Healthcare, hadir membantu konsumen guna meningkatkan perawatan gigi dan mulut melalui kombinasi pemahaman unik terhadap kebutuhan konsumen dengan inovasi ilmiah. Kami berkomitmen untuk terus menemani perjalanan konsumen Indonesia menggapai kesehatan mulut, gigi, serta tubuh yang lebih baik.

Baca Juga:  Akhor Melesat Cepat Hingga Teratas

Covid-19 membuat konsumen semakin ragu untuk pergi ke dokter gigi. Ketika ditanyakan kemungkinan akan mengunjungi dokter gigi di waktu mendatang, sebanyak 70% konsumen Indonesia mengaku khawatir dan tidak yakin resiko penularan virus corona sudah bisa diminimalisiasi.

Dari seluruh responden yang mengaku khawatir atau cukup khawatir mengunjungi dokter gigi, 46% merasa takut akan banyaknya orang yang berkunjung sehingga sulit untuk tetap menjaga jarak dengan pengunjung lain. Survei menunjukkan bahwa 63% konsumen berpikir adanya kemungkinan penularan Covid-19 yang tinggi dari peralatan gigi yang digunakan; 41% juga menunjukkan keragu-raguan akan kebersihan klinik gigi.

Meskipun terdapat kekhawatiran akan ketidakpastian rentannya penyebaran Covid-19 di klinik gigi, konsumen tidak serta merta mencari alternatif untuk merawat kesehatan gigi dan mulut mereka. Fakta ini didukung dengan hanya 40% yang menggosok gigi lebih sering dibandingkan sebelum pandemi.

Meskipun terdapat peningkatan konsumsi makanan dan minuman yang berpengaruh negatif terhadap kesehatan gigi dan mulut, 59% konsumen Indonesia justru menyatakan tidak ada perbedaan frekuensi menggosok gigi baik sebelum maupun selama pandemi. Namun demikian, survei menunjukkan sebanyak 32% konsumen mengaku lebih banyak mengkonsumsi obat kumur apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelum pandemi.

Menurut Prof. Dr. drg. Chiquita Prahasanti, Sp.Perio(K), Guru Besar Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga-Surabaya, Ketua Kolegium Periodonsia Indonesia, perawatan gigi dan mulut akan mempengaruhi rasa percaya diri dan juga kondisi kesehatan seseorang secara keseluruhan.

Beberapa perawatan bisa dilakukan secara mandiri, seperti: membatasi konsumsi gula tambahan kurang dari 6 sendok teh per hari; mengurangi konsumsi makanan asam; dan melakukan rutinitas perawatan diri sehari-hari misalnya penggunaan produk khusus saat menyikat gigi untuk merawat gigi sensitif.

Meski demikian, peran ahli juga mutlak diperlukan sebab dokter gigi berperan dalam rutinitas perawatan mulut yang baik dan menyeluruh. Sekalipun di tengah pandemi dengan pembatasan aktivitas tatap muka di negara kita, peran dokter gigi dan pentingnya mengunjungi dokter gigi secara teratur tidak boleh diabaikan.

Masyarakat dapat menggunakan pelayanan dokter gigi jarak jauh atau tele-dentistry untuk mendapatkan perawatan dari para ahli,” kata Chiquita Prahasanti. REL/S2

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan