Kinerja Polisi Dipertanyakan : Cepat Tangkap Terduga Teroris Tapi Tak Dapat Temukan Harun Masiku

  • Bagikan
a451a73cf8a931581514eaa20f63541d 1
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Pengamat politik Muslim Arbi mempertanyakan kinerja polisi. Pasalnya, polisi dengan cepat dapat menemukan terduga teroris, tapi tidak dapat menemukan Harun Masiku

Menurut Muslin, polisi yang menangkap terduga teroris dan memperlihatkan barang bukti kaos FPI diduga ingin menyudutkan organisasi yang didirikan Habib Rizieq Syihab (HRS) itu.

DomaiNesia

“Ada dugaan polisi ingin menyudutkan FPI dan HRS dengan mengaitkan dengan dugaan teroris,” ujar muslim sebagaimana dilansir www.suaranasional.com, Selasa. 30 Maret 2021.

Menurut Muslim, publik juga mengkritisi penangkapan terduga teroris yang coba dikaitkan dengan FPI. “Hanya dengan barang bukti kaos FPI, senjata tajam bisa dikaitkan dengan terorisme,” ungkap Muslim.

Sebelum terjadi penangkapan terduga teroris, kata Muslim, Tempo membongkar kejanggalan pernyataan polisi yang menyebut salah satu polisi yang terlibat pembunuhan enam Laskar FPI mati kecelakaan tunggal.

“Hasil investigasi Tempo, polisi yang mati kecelakaan tunggal bukan terlibat pembunuhan enam Laskar FPI,” jelasnya.

Sementara itu politikus Golkar Ahmad Annama mempertanyakan keberadaan buku Fisika Moderen yang disebut sebagai salah satu barang bukti yang ditemukan polisi pada terduga teroris di Condet, Jakarta Timur.
Polisi memperlihatkan ke publik barang bukti terduga teroris di antaranya buku fisika modern.

Baca Juga:  Hadang Rocky Gerung dan Ratna Sarumpaet Datang ke Palembang

“Ada Yang Bisa Jelaskan…Kenapa Buku FISIKA MODERN Jadi Barang Bukti?” tanya politikus Partai Golkar Achmad Annama di akun Twitter-nya @AchmadAnnama.
Achmad Annama mengatakan seperti itu dengan menyertakan foto barang bukti terduga teroris yang diperlihatkan polisi di antara kaos bertulis FPI, buku tentang FPI, buku Fisika Modern.

Aparat kepolisian menyita sejumlah barang bukti dalam proses penangkapan empat terduga teroris di Kabupaten Bekasi dan Condet, Jakarta Timur pada Senin, 29 Maret 2021..

Sikap senaga juga diungkapkan aktivis Molekul Pancasila Nicho Silalahi. Menurut dia, yang dilakukan polisi itu ibarat lagu lama dengan aransamen baru sedang diperlihatkan ke publik ketika polisi memperlihatkan barang bukti terduga teroris berupa kaos FPI maupun buku-buku berisi jihad.

“Publik lebih cerdas dalam menyikapi bom Makassar dan penangkapan terduga teroris yang dicoba digiring ke FPI,” ungkapnya sebagamana dilansir suara.com, Selasa, 30 Maret 2021.

Ia mengatakan, publik makin tersadar hasil investigasi Tempo yang menyebut polisi yang mati bukan pelaku pembunuhan enam Laskar FPI. “Secara fakta, FPI dimenangkan, namun tiba-tiba saja polisi memperlihatkan kaos FPI terduga teroris. Ini artinya ada upaya penggiringan opini FPI terduga teroris,” jelasnya.

Baca Juga:  MUI: Langkah Membubarkan FPI Tidak Tepat

Publik ublik harus fokus dugaan korupsi bansos yang dilakukan elit PDIP. “KPK harus didesak untuk segera memeriksa Herman Hery, Madam dan Anak Pak Lurah,” ungkapnya.

Menurut Nicho, nampaknya KPK terlalu takut dengan Herman Hery, Madam dan Anak Pak Lurah yang dianggap dekat dengan kekuasaan. “KPK dibiayai uang rakyat dan jangan sampai takut dalam penegakan hukum pemberantasan korupsi. KPK telah diberi anggaran negara yang sangat besar untuk memberantas korupsi,” jelas Nicho.

Nicho mengatakan, dugaan korupsi bansos yang dilakukan elit PDIP merusak kehidupan berbangsa dan bernegara. “Maka tak heran sosiolog UI Thamrin Amal Tomagala pernah mengatakan, publik bisa menggugat ke MK untuk membubarkan PDIP,”katanya.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengatakan bahwa semua barang bukti akan menjadi temuan awal dan didalami oleh tim Densus 88 Antiteror Polri.

Berdasarkan barang bukti yang ditunjukkan dalam jumpa pers, sebagian besar di antaranya merupakan atribut yang terasosiasi dengan Front Pembela Islam (FPI). Adapun rinciannya yakni:Buku ‘Dialog Amar Maruf Nahi Munkar FPI’ yang ditulis Muhammad Rizieq Shihab., jaket warna hijau berlogo FPI, sejumlah CD tentang FPI, kalender berlambang 212, buku Fisika Modern, pakaian bergambar reuni 212, sejumlah pedang, parang, dan senjata tajam lain.

Baca Juga:  Pembangunan Ekonomi Berkeadilan, Atensi Rakornas II KAHMI

Sikap senaga juga diungkapkan aktivis Molekul Pancasila Nicho Silalahi. Menurut dia, yang dilakukan polisi itu ibarat lagu lama dengan aransamen baru sedang diperlihatkan ke publik ketika polisi memperlihatkan barang bukti terduga teroris berupa kaos FPI maupun buku-buku berisi jihad.

“Publik lebih cerdas dalam menyikapi bom Makassar dan penangkapan terduga teroris yang dicoba digiring ke FPI,” ungkapnya sebagamana dilansir suara.com, Selasa, 30 Maret 2021.

Ia mengatakan, publik makin tersadar hasil investigasi Tempo yang menyebut polisi yang mati bukan pelaku pembunuhan enam Laskar FPI. “Secara fakta, FPI dimenangkan, namun tiba-tiba saja polisi memperlihatkan kaos FPI terduga teroris. Ini artinya ada upaya penggiringan opini FPI terduga teroris,” jelasnya. DBS/S2

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan