Mahasiswa Papua Deklarasi Merdeka di Monas

  • Bagikan
IMG 20201201 WA0001 1
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Puluhan massa dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) menggelar akUsi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda Monas, Jakarta, Selasa, 1 Desember 2020.

Aksi tersebut digelar untuk memperingati hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka yang dilaksanakan secara serentak di beberapa kota seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Kupang, Ambon, Makassar.

DomaiNesia

Dalam aksinya mereka menuntut adanya referendum bagi rakyat Papua Barat, penolakan Otonomi Khusus Jilid 2, hingga penarikan militer organik dan non-organik,

“Dan kita menolak Otsus dari tahun 2001, hanya meracuni jiwa nasionalisme bangsa Papua dari rupiah, Otsus hanya membuat orang-orang Papua menderita,” teriak orator dalam aksinya.

Sebelum melakukan aksi di depan Monas, massa aksi melakukan longmarch menuju ke kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat (AS).

“Tarik-tarik, tarik militer dari Papua, Papua merdeka…Papua merdeka,” teriak massa.

Sementara itu, di Tugu Bambu, Sinjai, Sulawesi Selatan, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengamankan 15 orang peserta aksi dari Front Rakyat Indonesia untuk West Papua yang melakukan aksi.

Hingga kini belum diketahui siapa saja yang diringkus dan dimintai keterangan di Polres Sinjai. Aksi mereka menuntut penolakan Otsus Papua jilid II dan berikan hak penentuan nasib sendiri untuk West Papua.

Baca Juga:  New Normal, Prudential - Eastpsring Invesments ajak Nasabah Tetap Berinvestasi

Berita tentang demonstrasi mahasiswa asal Papua ini mendapat banyak komentar dari netizen. Ada yang meminta Pangdam Jaya untuk segera bertindak. Ada juga yang mempertanyakan bagaimana negara tidak tahu padahal terjadi di depan mata.

IMG 20201201 WA0000

Calon Presiden

United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), kelompok yang ingin memerdekakan Papua Barat (West Papua) dari Indonesia, mencalonkan pemimpin mereka; Benny Wenda, sebagai presiden interim Papua Barat.

Kelompok itu juga mendeklarasikan “government-in-waiting” atas wilayah Papua Barat. Government-in-waiting merupakan istilah untuk pemerintah masa depan.

ULMWP menandai 1 Desember sebagai hari kemerdekaan Papua Barat. Tanggal itu merujuk pada deklarasi kemerdekaan Papua Barat dari pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1961.

Peringatan itu biasanya ditandai dengan pengibaran bendera Bintang Kejora yang sekarang dilarang oleh pemerintah Indonesia yang berdaulat atas Papua Barat.

ULMWP atau Gerakan Persatuan Pembebasan untuk Papua Barat, telah menetapkan konstitusi baru dan menominasikan Benny Wenda sebagai presiden interim. Benny Wenda sendiri masih berada di pengasingan di Inggris setelah mendapat suaka di sana.

Baca Juga:  RUU PKS tak Sesuai Norma Islam dan Pancasila

“Hari ini, kami menghormati dan mengakui semua nenek moyang kami yang berjuang dan mati untuk kami dengan akhirnya membentuk ‘pemerintah yang menunggu’,” kata Wenda yang dilansir The Guardian, Selasa, 1 Desember 2020.

“Mewujudkan semangat rakyat Papua Barat, kami siap menjalankan negara kami,” ujarnya.

“Seperti yang diatur dalam konstitusi sementara kami, Republik Papua Barat di masa depan akan menjadi negara hijau pertama di dunia, dan sinyal pandu hak asasi manusia—kebalikan dari dekade penjajahan berdarah Indonesia. Hari ini, kami mengambil langkah lain menuju impian kami tentang Papua Barat yang merdeka, merdeka, dan merdeka,” papar Wenda.

Sebelumnya, menjelang 1 Desember, juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani, menyoroti kekerasan di Papua Barat.

“Kami terganggu dengan meningkatnya kekerasan selama beberapa minggu dan bulan terakhir di provinsi Papua dan Papua Barat, Indonesia dan peningkatan risiko ketegangan serta kekerasan baru.”

Shamdasani mengatakan dalam satu insiden pada 22 November, seorang remaja berusia 17 tahun ditembak mati dan seorang remaja lainnya terluka dalam penembakan oleh polisi. Jasad remaja itu ditemukan di gunung Limbaga di distrik Gome, Papua Barat.

Baca Juga:  Jimly : NKRI Harga Mati

Dia juga mengutip pembunuhan pendeta gereja Yeremia Zanambani, yang tubuhnya ditemukan di dekat rumahnya di distrik Hitadipa penuh dengan peluru dan luka tusuk.

“Zanambani mungkin telah dibunuh oleh anggota pasukan keamanan,” kata Shamdasani.

“Sebelumnya, pada September dan Oktober 2020 ada rangkaian pembunuhan yang meresahkan setidaknya enam individu, termasuk aktivis dan pekerja gereja, serta warga non-pribumi. Setidaknya dua anggota pasukan keamanan juga tewas dalam bentrokan,” paparnya.

Sebanyak 36 pengunjuk rasa ditangkap di Manokwari dan Sorong dalam protes pro-kemerdekaan pada akhir pekan.

Pemerintah Indonesia menegaskan Papua dan Papua Barat sebagai bagian integral dan tak terpisahkan dari negara Indonesia, dan secara konsisten menyatakan sedang berupaya untuk mengembangkan wilayah tersebut.

Papua dan Papua Barat kaya akan sumber daya alam. Grasberg di Papua adalah salah satu tambang emas terbesar di dunia, tetapi termasuk di antara provinsi paling berkembang di Indonesia, dengan kemiskinan endemik dan tingkat malnutrisi anak yang tinggi.

Sumber: RMOL- Wartaekonomi
Editor : S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan