Baru Ditetapkan Jadi Tersangka, Status Tersangka 6 Lasykar FPI Tewas Ditembak Polisi Kemudian Digugurkan Bareskrim Polri

  • Bagikan
laskar fpi
Cloud Hosting Indonesia

SRIBERNEWS–Entah ini lelucon, atau memainkan hukum, yang jelas Bareskrim Polri dalam waktu singkat sudah melakukan 2 peristiwa bertolak belakang sekaligus.

Pertama, Bareskrim Polri menetapkan enam orang laskar Front Pembela Islam ( FPI) yang tewas di kilometer 50 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, sebagai tersangka penyerangan terhadap anggota Polri. Padahal, ke enam orang tersebut sudah meninggal dunia. Mungkin baru kali ini ada orang yang sudah meninggal dunia dijadikan tersangka tanpa pernah ayng bersangkutan dihadirkan di penyelidikan dan penyidikan Polri.

DomaiNesia

Kedua, beberapa jam kemudian, keputusan tersebut digugurkan oleh Bareskrim Polri sendiri.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian mengatakan, Polri akan segera melimpahkan berkas perkara kasus dugaan penyerangan tersebut ke Kejaksaan Agung.

“Sudah ditetapkan tersangka, kan itu juga tentu harus diuji makanya kami ada kirim ke Jaksa biar Jaksa teliti,” kata Andi Rian.

Menurut Andi, pelimpahan berkas perkara kepada jaksa peneliti bertujuan untuk mengkaji kasus tersebut. Sebab, keenam tersangka yang merupakan laskar pengawal FPI itu telah tewas saat insiden bentrokan.

Nantinya, jaksa peneliti akan ikut menimbang apakah kasus dugaan penyerangan enam anggota laskar FPI terhadap anggota Polri itu dihentikan atau tidak. “Kami sudah berkoordinasi dengan Jaksa,” ujar Andi.

Peristiwa meninggalnya enam anggota FPI itu terjadi saat kepolisian dari Polda Metro Jaya melakukan operasi terhadap mantan pemimpin FPI Rizieq Shihab pada 7 Desember 2020.

Baca Juga:  Dua Hari Konsolidasi, SJ Sumsel Yakin Jokowi Menang

Polisi yang kala itu melakukan pengintaian dan membuntuti rombongan Rizieq Shihab dihalangi oleh pihak FPI. Hasil investigasi Komnas HAM menyatakan, dua anggota FPI tewas saat tiba di rest area Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50.

Penembakan Laskar FPI Keduanya tewas karena saling serempet dan salling serang menggunakan senjata api dengan petugas yang melakukan pengintaian dan pembuntutan.

Sementara, empat anggota lainya tewas saat sudah dibawa dan berada di mobil petugas. Komnas HAM menyatakan ada indikasi unlawfull killing atau pembunuhan yang terjadi di luar hukum terhadap empat orang tersebut.

Digugurkan

Namun, hanya selanh beberapa jam, Bareskrim Polri menghentikan kasus ini. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyatakan status tersangka enam anggota Laskar FPI itu pun gugur. “Kasus penyerangan di Tol Jakarta-Cikampek dihentikan. Dengan begitu, penyidikan serta status tersangka sudah gugur,” kata Argo dalam keterangan tertulis, Kamis, 4 Februari 2021.

Menurut dia, penghentian kasus ini sesuai dengan Pasal 109 KUHP karena tersangka sudah meninggal dunia. Dengan demikian, seluruh penyidikan perkara tersebut dan status tersangka pada enam Laskar FPI tersebut sudah tidak berlaku di mata hukum.

Sementara itu, bertalian dengan kasus ini, Argo mengatakan, penyidik sudah menerbitkan Laporan Polisi (LP) soal dugaan adanya unlawful killing yang dilakukan polisi terhadap empat dari enam anggota Laskar FPI yang tewas.

Baca Juga:  Samsung -IGI Makassar Perluaa Manfaat Samsung Smart Learning Class

Dia mengatakan, saat ini ada tiga polisi dari Polda Metro Jaya yang sudah berstatus terlapor.
Menurut Argo, hal itu sudah sesuai dengan instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk menjalankan rekomendasi dan temuan dari Komnas HAM soal perkara ini.

“Rekomendasi dan temuan Komnas HAM kami sudah jalankan. Saat ini masih terus berproses,” ujar dia.

Sikap Bareskrim ini menuai banyak komentar dari warganet dan pakar. Ada yang menanggapinya dengan satir , ada yang menganggap ini keputusan irrasional dan blunder.
Tim advokasi enam Laskar FPI yang tewas meminta polisi melihat kembali undang-undang terkait dalam menegakkan hukum.

“Semua tahu kan, ini kan jelas kalau menurut hukum, kita kalau pakai hukum, bertugas atau menegakkan hukum ini melihat Pasal 77 KUHP. Kan gitu,” kata ketua tim advokasi laskar FPI, Hariadi Nasution, kepada wartawan, Kamis , 4 Februari 2021.
Hariadi menyebut, pada Pasal 77 KUHP dijelaskan bahwa tuntutan pidana dihapus ketika tertuduh sudah meninggal dunia. Dia mengatakan aturan itu sudah jelas.
“Untuk apa gitu loh. Pasal 77 KUHP jelas kan, ketika tersangka meninggal dunia statusnya. Pasal 77 KUHP, kewenangan menuntut pidana hapus jika tertuduh meninggal dunia,” tutur dia.

Baca Juga:  Mantan Kapolda DKI Sofjan Jacob, Tersangka Makar

“Ya kalau ditetapkan sebagai tersangka, mau ngapain? Mau P21 nanti kayak Habib Rizieq atau yang lain. P21 kan berarti kejaksaan, silakan saja kejaksaan, kalau sudah dilimpahkan ke kejaksaan, nanti kan P21 tahap kedua dan sebagainya ke pengadilan bisa nggak? Udah meninggal dunia, nggak ada,” katnya.
Hariadi menduga polisi menempatkan diri di atas hukum. Hariadi menegaskan undang-undang adalah hukum tertinggi.
Menurut dia, tindakan polisi ini seolah-olah menempatkan dirinya di atas undang-undang atau seperti lebih tinggi dari undang-undang, tidak mengikuti aturan.
“Aturan di undang-undang itu nggak gitu. Undang-undang kan menyatakan gitu, jadi kayaknya lebih tinggi dari undang-undang. Seperti itu kalau kita lihat ya kalau emang ditetapkan sebagai tersangka orang sudah meninggal,” ucap dia.

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, meminta polisi menggugurkan status tersangka enam anggota laskar FPI yang telah meninggal. Fickar menilai, status tersangka merupakan tindakan yang berlebihan.

“Dan tidak berdasar hukum, karena KUHP menentukan gugurnya hak menuntut adalah meninggalnya seseorang. Tidak ada alasan yuridis apapun untuk menentukan orang yang sudah meninggal sebagai tersangka,” kata dia sebagaimana dilansir tempo.com Kamis, 4 Maret 2021.

Alih-alih menetapkan sebagai tersangka, Fickar mendesak kepolisian melaksanakan rekomendasi Komnas HAM. “Ini lucu malah seolah olah melakukan pembelaan,” ucap Fickar. DBS/S1

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan