Aku Muhammadiyah, Aku Bangga Menjadi Muhammadiyah

  • Bagikan
IMG 20200718 WA0000
Cloud Hosting Indonesia

Oleh
*Nur Amalia

AKU dilahirkan dari keluarga Muhammadiyah. Sebagian besar hidup ayah dan ibuku dihabiskan untuk Muhammadiyah. Segala langkah, usaha, dan fpkirannya tercurah untuk kepentingan Muhammadiyah.

DomaiNesia

Bukan hanya karena ayah adalah pimpinan cabang Muhammmadiyah dan ibu aktif di Aisyiyah, serta aku anaknya aktif di Nasyiatul Aisyiyah, dan sekarang aktif di Aisyiyah, lalu disebut muhammadiyah. Bukan itu yang dikatakan Muhammadiyah. Yang dikatakan Muhmmadyah adalah ketika jiwa memiliki semangat, perjuangan, dan tingkah laku/akhlak yang terpuji, serta pengikut jejak Muhammad kekasih Allah yang disebut Muhammadiyah.

Pesan yang kuingat dari almarhum ayahanda: “ Hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Setinggi apapun ilmumu, setinggi apapun engkau terbang, jangan tinggalkan Muhammadiyah. Jangan pernah meminta jabatan, biarkanlah jabatan yg menghampirimu.
Jika tidak, tak perlu memaksakan diri,. In Syaa Allah itu lebih baik. A,rtinya Allah masih melindungimu dengan segala Rahman dan RahimNya. Bersyukurlah, itu tandanya disayang Allah dan kau terlindungi. Tak perlu memaksakan diri, jika itu tidak baik menurut Allah”.

Pemimpin Harus Adil

Seorang pejabat adalah seorang pemimpin. Mereka seharusnya mampu bersikap adil,. Jka berat sebelah, sebaiknya mundur saja. Takutlah kepada Allah bukan kepada manusia.

Perhatikan fenomena pemimpin akhir aaman

Baca Juga:  Madam dan Pak Lurah Keluarlah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah SAW bersabda “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat”.

Pada saat ini banyak bermunculan Ruwaibidhah yang diartikan sebagai orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Pelajaran yang terdapat di dalam hadis:

1. Hadis ini mengandung makna yang sangat dalam, bahwa pada saat ini nilai kebenaran sudah tumpang tindih dan tidak diindahkan lagi: pembohong dianggap jujur sebaliknya orang jujur dianggap pemohong, demikian juga pengkhianat dianggap amanah sebaliknya orang amanah dianggap pengkhianat. Hal Inilah yang dikategorikan Ruwaibidhah seperti yang dijelaskan nabi sebagai orang bodoh (pandir, dungu) tapi mengurusi orang banyak.

2. Pentingnya memiliki kejujuran. Hal ini mengandung peringatan dari bahaya kedustaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga”.
Jika seseorang terus menjaga sikap jujur dan selalu berjuang keras untuk menjaga sifat jujur, maka di sisi Allah dia senantiasa dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefakiran yang akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu).

Baca Juga:  "Kriminalisasi" Pasar Muamalah: Inikah Bukti Berhukum  Islam Secara Prasmanan di Negeri Muslim Indonesia?

3. Seorang pemimpin harus dapat menjaga amanah dan memperingat dirinya sendiri dari bahaya mengkhianati amanah. Rasulullah SAW sebagai mana sabadanya “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?” Rasulullah menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya/ kiamatnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah ra).

4. Berdasarkan ciri yang ada, mengandung subtansi yang sama: orang rendahan, bodoh, dan hina, tidak mengerti ilmu mengurusi urusan publik (contoh: menjadi penguasa/ pejabat), yang diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengurusi masalah masyarakat. Ini merupakan deskripsi yang jelas bahwa jika sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka secara sosial akan berdampak negatif.

Baca Juga:  Surat Terbuka Guru Besar UI Prof Dr Chusnul Mar’iyah untuk Pemimpin Bangsa

5. Seorang pemimpin harus mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau dengan cara kembali kepada ilmu dan ulama.

Pengertian ilmu yang dimaksud adalah Alquran dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, sedangjan ulama adalah ahli ilmu yang menyertai perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal amal dan ilmu, dakwah, maupun jihad.

Bahaya Berbicara Tanpa Llandasan Ilmu.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Maksud ayat di atas dalat dijelaskan sebagai berikut. “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya, penglihatan, pendengaran, dan hati, semua akan dimintai pertanggung-jawabannya. (QS. Al-Israa: 36)”.
Tidak gampang menjadi pemimpin, karena apapun yang dilakukan seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah. Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang amanah.
&&&

Mari Bermuhammadiyah sesuai dengan contoh Rasulullah, tanpa menambah dan menguranginya. Jangan lupa, pelihara akhlakmu. Jadikan akhlakmu sebagai pakaianmu tanpa merugikan lembaga, atau golongan. Jaga amanah wahai pimpinan. Tak perlu memperkaryakan diri sendiri jika tidak diridhai Allah.

*Nur Amalia, Dosen UHAMKA Jakarta

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan