erima Kasih Tuan Presiden, Sudah Bicara Meskipun Sangat Mengecewakan

  • Bagikan
khozinudin
Cloud Hosting Indonesia

Oleh Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Tuan Presiden, akhirnya anda bicara setelah segenap rakyat menunggunya. Meskipun sangat terlambat, anda akhirnya bicara. Hanya saja pembicaraan Anda sangat mengecewakan.

DomaiNesia

Tuan Presiden, izinkan saya mengemukakan pendapat untuk menanggapi pembicara Anda, sebagai berikut :

*Pertama,* Anda bicara seperti menanggapi hal yang biasa. Anda, bicara setelah berolahraga sepeda di Istana, bukan dalam forum resmi atau minimal konferensi pers Kepresidenan.

Itu artinya, anda melihat peristiwa ini hal yang biasa, bukan keadaan yang memprihatinkan seperti apa yang dipahami dan dirasakan publik. Bukan dalam konteks adanya dugaan extra juducial killing, sebagaimana sedang di selidiki oleh Komnas HAM.

Padahal, pada kasus Sigi, representasi Negara mengeluarkan statemen secara resmi. Seperti biasa, narasi ‘Negara Tidak Boleh Kalah dengan Radikalisme dan Terorisme’ menjadi menu utamanya.

Baca Juga:  Ditolak Kemenkumham, Moeldoko Berpeluang Menang di PTUN

*Kedua,* Anda tidak bicara fakta dan memberikan pernyataan resmi negara terhadap fakta. Anda, justru sedang bernarasi dan melakukan framing peristiwa dengan sangat jahat.

Kenapa Anda mengaitkan tewasnya 4 warga Sigi dengan peristiwa tewasnya 6 anggota Front Pembela Islam (FPI) sebagai prolog ? Bukankah, itu dua peristiwa yang sama sekali berbeda.

Peristiwa Sigi, adalah korban yang ditimbulkan oleh kelompok bersenjata. Sementara 6 anggota FPI tewas oleh tembakan aparat polisi. Apakah maksud tuan Presiden, aparat penembak 6 anggota FPI sama biadabnya dengan pelaku pembunuhan di Sigi ?

Atau 6 anggota FPI itu seperti kelompok bersenjata di Sigi, sehingga layak dibantai polisi ? Sikap Anda yang tegas yang mana ?

*Ketiga,* kenapa pernyataan Anda lebih menekankan perlindungan bagi pelaku penembakan dari aparat, bukan kepada korban dan keluarga korban ?

Baca Juga:  Eropa Bisa Bersatu Membentuk Uni Eropa, Kaum Muslim Lebih Layak Bersatu dengan Khalifah

Kenapa anda lebih condong mengingatkan masyarakat tidak diperbolehkan untuk bertindak semena-mena dan melakukan perbuatan melanggar hukum yang merugikan masyarakat ? Apalagi, bila perbuatannya itu sampai membahayakan bangsa dan negara ?

Bukankah yang semena-mena itu aparat ? Bukankah anggota Polda Metro Jaya semena-mena menembak 6 anggota FPI hingga tewas ? Kenapa justru seolah olah 6 anggota FPI ini yang dianggap meresahkan masyarakat ?

Narasi anda juga malah menimbulkan kegaduhan. Apa maksud Anda menegaskan kepada aparat hukum, agar tidak boleh gentar dan mundur sedikitpun dalam melakukan penegakan hukum ? Apa itu artinya, Anda merestui pembantaian 6 anggota FPI yang merupakan rakyat Anda, dengan dalih penyelidikan dan penyidikan sebagaimana diklaim polisi ?

Saya paham Indonesia Negara hukum. Karena itu harus ada penyelidikan yang otoritatif dan legitimate untuk mengungkap kasus ini. Namun, kenapa anda tidak menginisiasi pembentukan TGPF ? Anda hanya mendorong ke Komnas HAM. Apa anda memiliki tujuan, agar kasus ini menguap seperti pembantaian Siyono oleh Densus 88 ?

Baca Juga:  Surat Edaran MenPAN -RB Obscuur (Tidak Jelas) dan Berpotensi Memecah Belah Persatuan Bangsa

Anda bicara negara hukum, tapi anda telah menyimpulkan peristiwa tanpa penyelidikan, menganggap ada masyarakat yang mengancam masyarakat lainnya dan berbahaya bagi bangsa dan negara. Lantas, anda mendukung penuh polisi tanpa memberikan empati sedikit pun kepada keluarga korban.

Tanpa Anda bicara, sebenarnya saya sudah menduga apa yang akan Anda bicarakan. Hanya saja, dengan bicara, saya dan segenap rakyat jadi tahu dimana posisi anda berada. Mohon maaf tuan Presiden, kami semakin yakin bukan hanya ada dugaan extra judicial killing oleh anggota Polda Metro Jaya. Tetapi, ada dugaan kuat terjadi ‘State Crime’ dalam peristiwa ini.

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan