Potong Burung, Buat Lelaki Penakut

  • Bagikan
Prof Dr Mahar Mardjono, mantan Rektor Universitas Indonesia yang dikenal dekat dengan mahasiswa dan selalu membela mahasiswa
Prof Dr Mahar Mardjono, mantan Rektor Universitas Indonesia yang dikenal dekat dengan mahasiswa dan selalu membela mahasiswa. Foto: Net
Cloud Hosting Indonesia

Cerita keberanian masa lalu yang sarat penuh makna

Oleh

DomaiNesia

Alfian Zulham Siregar

Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan

Ketika tahun 1975, posisi Ketua Dewan Mahasiswa UI diduduki Dipo Alam dari Fakultas MIPA menggantikan Hariman Siregar, ada peristiwa besar yang patut diingat dan jadi rujukan.

Saat berkampanye menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI, Dipo Alam berjanji akan membebaskan kawan-kawannya yang ditangkap dalam peristiwa Malari. Tentu dengan catatan, yaitu bagi yang kasusnya belum masuk ke pengadilan. Dan, Dipo Alam benar-benar merealisasikan janjinya.

Sebagai anak Menteng sekaligus HMI yang punya jaringan luas, Dipo Alam memanfaatkan seluruh jaringannya untuk membebaskan teman-temannya.

Dipo Alam dan kawan-kawannya, pengurus Dewan Mahasisawa UI, berkeliling menemui sejumlah tokoh, meminta agar pemerintah membebaskan kawan-kawan mereka. Salah satu tokoh yang kemudian besar pengaruhnya dalam upaya pembebasan itu adalah Jaksa Agung Ali Said. Dia memang dikenal sebagai jaksa yang lurus dan saleh.

Baca Juga:  Menggeser Puan, Apa Strategi Ganjar Pranowo?

Sesudah menerima penjelasan Dipo Alam dalam sebuah acara open house di rumahnya, Ali Said berjanji akan menyampaikan langsung permintaan itu kepada Presiden Soeharto. Dia meminta Dipo Alam untuk datang ke kantornya beberapa hari kemudian.

Dalam upayanya membebaskan kawan-kawannya tersebut, Dipo tentu saja selalu berkomunikasi dengan Rektor UI pada masa itu yaitu Prof Dr Mahar Mardjono. Kebetulan, ketika itu jabatan Wakil Rektor UI bidang kemahasiswaan dijabat oleh Dr. Sri Edi Swasono. Keduanya, menurut Dipo Alam, sama-sama dikenal dekat dengan mahasiswa dan selalu berusaha melindungi kepentingan mahasiswa.

Hasil pertemuan dengan Ali Said pun segera dilaporkan oleh Dipo Alam kepada Prof. Mahar Mardjono. Mereka merasa ada titik terang terkait nasib mahasiswa UI yang masih ditahan. Mahar Mardjono dan Sri Edi Swasono bahkan bersedia mendampingi Dewan Mahasiswa UI menemui Jaksa Agung dalam sebuah pertemuan yang lebih resmi.

Baca Juga:  Dirgahayu ke-494, Jakarta Semakin Mendunia

Karena mengagumi dan sangat respek dengan keberanian  Mahar Mardjono sebagai rektornya, tak urung Dipo Alam tetap bertanya dengan sedikit keheranan

“Pak, apa Bapak tidak takut nantinya dipecat Sjarif Thajeb?” tanya Dipo Alam dengan menduga-duga

Sjarif Thajeb merupakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu. Sesudah terjadinya peristiwa Malari, ia banyak mengeluarkan kebijakan yang merepresi kegiatan mahasiswa, termasuk menekan para pimpinan perguruan tinggi.

Ditanya begitu, malah Prof. Mahar Mardjono tertawa terkekeh dan senyum simpul penuh kewibawaan

“Dip, kalau kamu takut, atau saya takut, sebaiknya kita potong burung saja,” ujarny dengan tegas sekaligus bercanda

Mendengar jawaban itu, Dipo Alam dan teman-temannya yang lain hadir spontan tertawa terbahak-bahak. Begitulah memang seharusnya seorang pimpinan universitas atau rektor yang harus melindungi dan mengayomi para mahasiswanya..Sehingga sikap kritis idealisme mahasiswa bisa terawat trpelihara hingga kontribusi itu bisa dinikmati dalam perjalanan bernegara berbangsa sekaligus bertanah air.

DomaiNesia
OkeStore Theme
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *